Bagi sebagian orang, tahun 1998 hanyalah angka dalam buku sejarah—era reformasi, krisis moneter, dan gejolak sosial yang mengubah wajah sebuah bangsa. Namun di tengah angka-angka inflasi dan tajuk berita yang mencekam, ada jutaan cerita personal tentang perjuangan untuk sekadar menyambung hidup. Mengambil satu dari jutaan cerita itu, GameChanger Studio mengajak kita ke sebuah bilik gerbang tol sempit dalam 1998: The Toll Keeper Story, sebuah game yang membuktikan bahwa drama terbesar seringkali terjadi di tempat yang paling biasa.
Berlatar di negeri fiktif Janapa, game ini mengajak pemain merasakan perjuangan Dewi, seorang calon ibu hamil tua yang bekerja sebagai penjaga gerbang tol. Walau dunianya fiktif, cerita yang diangkat terinspirasi kuat dari kisah-kisah nyata pada era tersebut, di mana inflasi besar-besaran merambat ke segala aspek kehidupan dan memicu kekacauan sosial politik.
Spoiler warning: review ini akan membahas beberapa poin cerita dan mekanik lanjutan dari game ini.
Dua Pilar Utama: Simulasi dan Narasi
Sebagai game simulasi naratif choice matter, “1998: The Toll Keeper Story” dibangun di atas dua pilar utama yang saling menguatkan:
- Pilar Simulasi: Pemain akan merasakan pengalaman unik menjadi penjaga tol di era krisis, dengan gameplay yang menarik dan semi-realistis.
- Pilar Naratif: Game ini menawarkan cerita yang sangat imersif, dengan pengembangan karakter yang dalam, alur cerita, dan latar belakang yang menarik. Di dalam game ini, semua pilihan yang dilakukan pemain akan mempengaruhi akhir dari cerita.

Dalam review ini, kami akan membahas lebih dalam bagaimana kedua pilar ini bekerja untuk menceritakan kisah Dewi dalam bertahan menghadapi krisis.
Kisah Dewi di 1998: The Toll Keeper Story
Dewi adalah seorang yang hidup dalam kesederhanaan, karena dari kecil dibesarkan dengan cara itu oleh orang tuanya. Pada masa sekolah ia memiliki sahabat baik bernama Santi, persahabatan ini bertahan hingga mereka dewasa. Di dalam kehidupan sederhana ini ia bertemu dengan Heru, dimulai dari bertukar pandangan. Dari bertukar pandangan namun lambat laun mereka ingin hidup bersama dan membuat keluarga yang bahagia.
Setelah mereka menikah Dewi dan Heru pun merantau ke ibu kota untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Kehidupan di kota tidaklah mudah, Dewi pada akhirnya bekerja sebagai penjaga gerbang tol sedangkan Heru bekerja sebagai pengemudi taksi.
Game ini di mulai saat Dewi dan suaminya Heru sedang bersiap akan kedatangan buah hati perempuan mereka ke dunia. Di tengah kehamilan tua ini dewi tetap bekerja untuk menyambung hidup dan bekal untuk melahirkan putrinya. Namun nasib berkata lain, dunia mereka mulai diterpa dengan berbagai rintangan yang dimulai dengan kondisi Jenapa yang dilanda krisis ekonomi yang merambat ke segala aspek.
Saat menjaga gerbang tol, Dewi tetap menjalankan tugas utama dan juga mendapatkan tugas lain yang terkadang membuat pemain mempertanyakan moral. Ketika bekerja menjaga gerbang tol, Dewi sering bertemu dan diajak berbicara dengan pengguna jalan tol mulai dari suaminya Heru, sahabat baiknya Sinta hingga seorang Mahasiswa bernama Juki. Oleh karena itu Dewi mendapatkan potongan-potongan cerita yang terjadi di ibu kota Jenapa.

Hari demi hari kondisi Jenapa makin memburuk, keresahan rakyat mulai membesar sampai akhirnya pelajar-pun mulai mendemo pemerintah. Dengan kondisi seperti ini, Dewi semakin mempertaruhkan banyak hal untuk menyambung hidup dari segi kesehatan hingga ekonomi.
Namun hal ini makin berat ketika mendapatkan berita bahwa bayi-nya dalam posisi sungsang. Sehingga Dewi harus mengumpulkan uang lebih untuk operasi caesar sehingga ia dan bayi-nya selamat. Bagaimana akhir cerita Dewi dan orang-orang terdekat-nya? Hanya pemain lah yang dapat menentukan akhir cerita dari pilihan-pilihan kecil yang dilakukan saat bermain.
Gameplay simulasi penjaga gerbang tol
Inti dari permainan ini menempatkan kita di dalam bilik sempit seorang penjaga tol, dan di sinilah kedua pilar gameplay—simulasi dan narasi—bertemu dengan begitu apik.
Tugas utama kita pada dasarnya sederhana: periksa jenis kendaraan yang lewat, tentukan tarif yang sesuai, terima uang, dan berikan kembalian yang pas. Namun, seiring memburuknya kondisi negara Janapa, pekerjaan yang tadinya rutin ini menjadi semakin rumit dan penuh tekanan.

Setiap beberapa hari, peraturan baru diterapkan sebagai cerminan dari krisis yang makin dalam. Kita tidak hanya harus waspada terhadap peredaran uang palsu, tetapi juga ditugaskan untuk menegakkan aturan baru seperti sistem ganjil-genap plat nomor hingga pengecekan berat muatan kendaraan. Mekanik-mekanik yang terus bertambah ini berhasil membuat gameplay tetap menantang dan secara cerdas menggambarkan betapa kacaunya kondisi negara dari sudut pandang seorang pekerja biasa.
Di antara tugas-tugas teknis tersebut, narasi game bersinar. Setiap mobil yang berhenti bukan hanya sekadar angka dan tarif; mereka adalah jendela kita untuk melihat dunia luar. Para pengemudi seringkali berbagi cerita, keluh kesah, atau bahkan meminta bantuan. Pilihan untuk menolong seorang supir yang kekurangan uang atau tidak, sekecil apapun itu, akan memiliki konsekuensi yang merambat ke alur cerita Dewi dan nasib orang-orang di sekitarnya. Semua perjuangan ini pun terasa nyata karena di balik layar, kita harus pintar mengelola pendapatan Dewi yang pas-pasan untuk membayar tagihan sewa, makanan, dan biaya dokter yang terus membayangi.

Di antara shift kerja yang menegangkan, kisah utama Dewi diceritakan melalui segmen visual novel yang efektif. Setiap hari ditutup dengan momen reflektif di mana kita melihat isi jurnal Dewi, bahkan kita bisa menghiasnya dengan stiker. Mekanik kecil ini secara cerdas membuat kita semakin terikat dan berinvestasi secara emosional pada perjuangannya, mengubah simulasi pekerjaan menjadi sebuah kisah kemanusiaan yang menyentuh.
Visual dan Sound
Dari segi visual, 1998: The Toll Keeper Story hadir dengan gaya visual klasik untuk memberikan nuansa 90-an. Visual ini dihadirkan lewat visual hand drawn, penggunaan tekstur dot, estetika kertas lawas, dan filter sepia. Dengan kombinasi ini memberikan kesan vintage hasil media cetak lama yang memiliki batasan. Sebagai wujud dari visual vintage penggunaan animasi di game ini terbilang simple dan stylish, menggunakan gaya mengingatkan akan gaya stop motion.

Dari segi audio, musik yang ada di 1998: The Toll Keeper Story sangat sesuai dengan nuansa 90-an. Musik di menu utama memberikan nuansa kelam yang sedikit menceritakan hal yang akan terjadi di dalam game ini. Saat bermain, kami sempat bingung kenapa tidak ada musik latar belakang. Ternyata musik latarbelakang harus dinyalakan secara manual dengan cara memilih radio di latarbelakang.
Ketika musik latarbelakang menyala, nuansa game tiba-tiba berubah karena musik yang diberikan bersifat tenang dan mengajak berdansa. Oleh karena itu kami merasa hal ini disengaja oleh developer untuk memberikan kesan bertolak belakang dengan kejadian yang sedang terjadi di mana Dewi bisa sejenak mengalihkan pikiran.
Di sisi lain, kami merasa saat musik latarbelakang bermain, fokus kami agak terganggu dan melakukan kesalahan ketika memeriksa kendaraan. Jadi pilihan bisa menyalakan dan mematikan musik adalah sentuhan bagus untuk quality of life dari developer. Kualitas sound effect di dalam game ini sangat baik dan imersif terutama bagian mobil. Sayangnya ketika ada bagian voice talent yang menjadi pengisi suara Dewi kualitas rekaman berbeda dengan audio yang lain dan menyebabkan hilangnya imersi pada saat mendengarkan cerita.

Kesimpulan
1998: The Toll Keeper Story adalah game yang wajib dinikmati bagi gamer penyuka game simulasi naratif. Sebagai game dari Indonesia yang pertama kali mengangkat tema penjaga gerbang tol sangatlah menarik, dengan mengajak pemain fokus untuk pemeriksaan detail kendaraan. Kemudian kisah Dewi yang diangkat sangatlah menarik karena terinspirasi oleh kejadian yang terjadi di dunia nyata terutama kejadian di Indonesia pada masa itu.
Namun, nilai positif ini juga dapat menjadi alasan sebagian pemain tidak cocok untuk memainkan game ini. Mungkin bagi orang yang tidak suka melakukan hal repetisi atau yang memiliki kisah keluarga yang pararel dengan apa yang dialami oleh Dewi. Oleh karena itu kami nilai cerita yang dibawakan dalam game ini sangatlah berat dan perlu di renungkan bagi pemain-nya.
Kelebihan
- Visual yang menarik memberikan kesan vintage.
- Cerita imersif yang membuat pemain ingin tahu kelanjutan kisah Dewi.
- Mekanik gameplay yang beragam mengajak pemain untuk fokus saat bermain.
- Lingkungan sekitar saat bermain imersif mengikuti alur cerita.
- Nilai replayability tinggi karena game ini memiliki lebih dari satu ending.
Kekurangan
- Sayangnya untuk satu kali jalan cerita terbilang sebentar karena hanya memiliki 15 hari.
- Alur cerita dirasa agak terburu-buru di beberapa hari terakhir.
- Kualitas rekaman audio yang tidak konsisten terutama saat menggunakan voice talent.
- Ada mekanik yang sulit diakses karena berada di dalam menu sedangkan mekanik ini sering digunakan.
1998: The Toll Keeper Story
Summary
1998: The Toll Keeper Story adalah game simulasi naratif yang berhasil menghadirkan pengalaman imersif. Walau memiliki beberapa kekurangan, gameplay yang seru dan cerita yang menarik membuatnya wajib dimainkan untuk pencinta game simulasi naratif.






























