Musik dari anime bukan lagi sekadar pelengkap adegan aksi atau drama. Dalam beberapa tahun terakhir, lagu-lagu anime justru menjelma menjadi salah satu genre musik paling populer di kalangan Gen Z, baik di Jepang maupun secara global. Dari panggung konser internasional hingga trending di TikTok, anisong kini jadi bagian dari gaya hidup pop culture generasi muda.
Anisong dan Gen Z: Hubungan yang Erat dan Emosional
Anisong, atau anime song, adalah sebutan untuk lagu-lagu yang digunakan dalam anime, baik sebagai opening, ending, maupun soundtrack. Tapi buat banyak penggemar muda, terutama Gen Z, anisong lebih dari itu—musik ini menjadi jembatan emosional yang menghubungkan mereka dengan karakter, cerita, dan nilai-nilai yang menginspirasi.
Menurut data dari Crunchyroll dan National Research Group, sebanyak 54% Gen Z di seluruh dunia adalah penggemar anime. Spotify bahkan mencatat peningkatan streaming musik anime secara global sebesar 395% antara 2021 dan 2024. Sebagian besar pendengar anisong juga berasal dari usia di bawah 29 tahun, menunjukkan bagaimana genre ini telah menemukan tempat istimewa di hati generasi muda.
Ado dan Panggung Global Anisong
J-pop diva Ado merupakan salah satu ikon anisong yang paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Ia dikenal lewat gaya penampilannya yang misterius dan karisma vokal yang mencengkeram. Salah satu momen puncaknya adalah saat menyanyikan “Kura Kura” dari Spy x Family di O2 Arena London pada 2024, yang langsung disambut teriakan massal penonton.
Ado juga mengisi banyak lagu dari One Piece Film Red sebagai karakter Uta, termasuk “New Genesis” dan “Uta’s Lullaby”. Lagu-lagu tersebut membawanya ke panggung global dan menjadikannya simbol kebangkitan anisong dalam skala internasional. Ado menyatakan bahwa “karakter Uta memiliki sentuhan manusiawi yang kuat. Dia bisa mengekspresikan kebahagiaan dan kegembiraan, tapi juga kemarahan, kebencian, dan kesedihan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami.”

Pada 2024, Ado tampil di Jakarta dalam rangkaian tur dunianya. Kehadirannya disambut hangat oleh penggemar anime dari berbagai generasi—terutama Gen Z yang telah lama mengikuti kariernya secara daring.
Artis Anisong yang Mendunia
Ado bukan satu-satunya yang membawa anisong ke panggung dunia. Duo J-pop YOASOBI sukses menempatkan lagu “Idol” dari anime Oshi no Ko di puncak Billboard Global Chart—sebuah pencapaian luar biasa untuk lagu anime. Creepy Nuts dengan “Bling-Bang-Bang-Born” untuk Mashle: Magic and Muscles juga viral berkat gaya fusion-nya yang unik.
LiSA, yang populer lewat “Gurenge” dari Demon Slayer, menyatakan dalam wawancara dengan Billboard Japan bahwa “saya mencoba menempatkan diri saya pada posisi karakter utama, yang terus maju meskipun masa lalunya penuh tragedi.” Versi instrumental dari “Gurenge” bahkan dipilih sebagai bagian dari penutupan Olimpiade Tokyo 2020, menegaskan pengaruh besarnya dalam budaya populer Jepang.
Tak ketinggalan, band legendaris FLOW membawa semangat anime ke seluruh dunia lewat tur bertajuk Anime Shibari World Tour pada 2025. Lagu-lagu mereka seperti “GO!!!” (Naruto) dan “Sign” (Naruto Shippuden) menjadi bagian dari memori kolektif lintas generasi—mulai dari milenial hingga Gen Z yang tumbuh bersama anime.
Lebih dari Sekadar Soundtrack: Kekuatan Narasi dalam Musik Anime
Satoshi Uto, Direktur Akuisisi Musik di Crunchyroll, menyatakan bahwa “lagu pembuka dan penutup dalam anime adalah elemen krusial dalam koneksi emosional fans terhadap cerita.” Anisong bukan hanya musik latar—ia adalah bagian dari narasi yang memperkuat pengalaman menonton.
Komposer seperti Kensuke Ushio bahkan menciptakan musik fiktif untuk band dalam anime The Colours Within dengan merekam suara ambient di gereja Jepang demi menghasilkan suasana latihan band yang autentik. Ketelitian semacam ini membuat musik anime terasa hidup dan menyatu dengan jalan cerita, menciptakan ilusi bahwa musik tersebut memang eksis di dunia nyata.
Di era digital, lagu-lagu anime juga jadi sarana viralitas. Soundtrack dari anime seperti One Piece, Demon Slayer, hingga Jujutsu Kaisen menyebar di TikTok dan YouTube, di-remix ulang, dan jadi anthem global yang menyentuh generasi muda. Bahkan, lagu-lagu ini kerap dijadikan latar untuk berbagai konten emosional oleh kreator Gen Z, dari cosplay hingga video tribute.
Antusiasme Fans Indonesia
Indonesia tak ketinggalan dalam merasakan gelombang global anisong. Dalam dua tahun terakhir, Jakarta menjadi panggung bagi sejumlah konser musisi anisong kelas dunia. Setelah Ado tampil di tahun 2024, FLOW hadir di 2025 membawa tur Anime Shibari dan menggetarkan nostalgia para penggemar anime klasik.
Antusiasme fans terlihat jelas dari jumlah penonton, atmosfer konser, hingga interaksi daring yang viral di media sosial. Anisong kini bukan sekadar musik dari luar negeri, tapi telah menjadi bagian dari pengalaman budaya generasi muda Indonesia—terutama Gen Z yang terhubung dengan komunitas global lewat platform seperti TikTok dan Spotify.
Selain konser berskala internasional, semangat terhadap anisong juga tercermin dalam gelaran besar seperti Anime Festival Asia Indonesia (AFAID). Setelah vakum selama beberapa tahun, AFAID kembali hadir pada 2024 dan 2025 dengan berbagai program seperti konser I Love Anisong, karaoke anisong, dan penampilan DJ bertema anime. Festival ini menjadi ruang penting bagi para penggemar untuk merayakan anime dan musiknya dalam suasana yang meriah dan inklusif.
Komunitas dan Konser
Pengaruh anisong tidak hanya terasa di headphone pribadi, tapi juga dalam ruang sosial tempat penggemar berkumpul. Eneni Bambara-Abban, pendiri kolektif Anime & Chill, menyatakan bahwa “platform seperti TikTok dan YouTube telah memberi kehidupan kedua pada lagu-lagu anime. Orang-orang menyanyikannya bersama, dan lagu dari anime kecil bisa jadi anthem global.”
Konser, event komunitas, dan pertemuan daring telah menjadi tempat di mana anisong benar-benar terasa sebagai pengalaman kolektif. Di ruang-ruang ini, generasi muda mengekspresikan identitas mereka, berbagi semangat fandom, dan menjadikan musik sebagai bahasa universal yang melampaui batas negara dan bahasa.
Banyak komunitas lokal bahkan menyelenggarakan karaoke night bertema anisong atau nonton bareng konser livestream artis favorit mereka. Aktivitas ini menjadi semacam ritual bersama yang memperkuat rasa memiliki terhadap anime dan musiknya.
Tak hanya di Jepang, anisong juga meresonansi secara global—menghubungkan penggemar dari berbagai latar belakang melalui lirik, melodi, dan kenangan yang mereka bagikan bersama.
Anisong Akan Terus Berkembang
Dari lagu pembuka anime hingga tur dunia para musisi Jepang, anisong telah berkembang menjadi genre musik dengan kekuatan budaya yang tak terbantahkan—terutama di kalangan Gen Z yang menjadi jantung gelombang global ini. Musik ini tidak hanya menghidupkan adegan anime, tapi juga membentuk pengalaman emosional lintas generasi dan membangun komunitas lintas negara.
Buat kamu yang tumbuh bersama anime, anisong adalah pengingat karakter favorit, semangat pantang menyerah, dan momen-momen yang menyentuh hati. Dan bagi pendengar baru, ini adalah gerbang ke dunia musik yang penuh emosi, cerita, dan ekspresi diri. Dengan semakin banyak artis seperti Ado, YOASOBI, dan FLOW yang menjangkau penonton global—termasuk di Indonesia—anisong akan terus hidup dan berevolusi, melampaui batas layar, bahasa, dan budaya.
Kita bisa berharap anisong akan terus berkembang lewat kolaborasi lintas genre dan budaya, hingga menjadi salah satu kekuatan utama dalam musik global.

































