Kabar mengejutkan datang dari dunia Tokusatsu yang pasti akan membuat penggemar terhenyak. Setelah menemani penonton selama setengah abad, serial legendaris Super Sentai akan mengakhiri masa tayang televisinya.
Shinichiro Shirakura, eksekutif senior sekaligus Head of Character Business di Toei, membeberkan alasan di balik keputusan besar ini dalam wawancaranya dengan Asahi Shimbun. Keputusan ini bukan sekadar pembatalan biasa, melainkan langkah strategis fundamental untuk masa depan franchise tersebut.
Mengapa Super Sentai Kehilangan Daya Tariknya?
Shirakura menyoroti sebuah paradoks menarik: hampir semua orang di Jepang tahu apa itu Sentai, namun mereka sering kali tidak familiar dengan cerita spesifik dari tahun ke tahun. Masalah mendasar dari franchise ini adalah durasinya yang terlalu lama, sehingga menjadi tontonan yang dianggap “biasa saja”.
Bagi banyak orang, mendengar kata “Sentai” langsung memunculkan imej lima pahlawan dengan kostum berwarna. Di satu sisi, persepsi ini menjadikan tontonan ini sebagai zona nyaman atau comfort viewing yang tidak berubah. Namun di sisi lain, persepsi statis ini membuat orang berpikir bahwa acara ini bukan tontonan wajib.

Akibatnya, kamu mungkin berhenti menonton episode baru setiap minggu dan lebih memilih menonton tayangan lama demi nostalgia. Shirakura berpendapat bahwa generasinya harus mundur dari franchise ini. Ia ingin generasi baru mengambil alih untuk merancang konsep yang benar-benar segar.
Tantangan Streaming dan Marvel bagi Super Sentai
Selain faktor internal, sang produser juga menjabarkan dua guncangan besar dari luar yang memaksa perubahan ini. Tantangan pertama adalah era streaming yang dipicu oleh pandemi COVID-19. Berkat layanan streaming, penonton kini dapat memilih dari seluruh katalog tontonan, baik acara baru maupun lama.
Kondisi ini menciptakan kompetisi unik di mana seri baru harus bersaing dengan pendahulunya sendiri, terutama judul-judul klasik yang memiliki rating tinggi. Bagi penonton baru, hal ini membingungkan karena mereka tidak tahu harus mulai menonton dari mana, mengingat banyaknya entri berbeda yang minim keterikatan cerita satu sama lain.
Tantangan kedua adalah gelombang besar komik Amerika, khususnya kesuksesan Marvel Cinematic Universe (MCU). Shirakura mencatat bahwa Avengers sangat populer di Jepang. Marvel menyajikan karakter dari Captain America hingga Iron Man dalam satu paket universe yang terpadu. Sebaliknya, Super Sentai selama ini melakukan reset cerita setiap tahun. Format antologi tahunan ini menghambat pengembangan karakter jangka panjang, berbeda dengan model penceritaan Marvel yang berkelanjutan.
Rencana Hiatus Panjang untuk Super Sentai
Melihat kondisi tersebut, Shirakura menjelaskan bahwa batasan konsep dari serial ini kini telah menjadi sangat nyata. Meskipun staf produksi telah mencoba memasukkan berbagai ide kreatif untuk melampaui batasan tersebut, rasanya sulit untuk mempertahankan kesegaran format yang sudah berjalan selama 50 tahun. Oleh karena itu, tim produksi menyadari bahwa mereka harus memikirkan ulang franchise ini secara mendasar.
Menariknya, ini bukan berarti Super Sentai akan hilang selamanya. Shirakura menekankan bahwa franchise yang melahirkan fenomena global Power Rangers ini akan kembali. Namun, ia berpendapat bahwa jeda atau hiatus selama satu dekade akan sangat baik bagi kelangsungan judul ini. Istirahat panjang selama 10 tahun dianggap perlu agar penonton bisa merasakan kerinduan. Jeda ini juga memberikan ruang bagi ide-ide baru untuk berkembang tanpa beban sejarah panjang yang mengikat.
Sejarah Project Tokusatsu yang Terulang
Shirakura mengenang saat ia bergabung dengan Toei pada tahun 1990, ketika perusahaan sedang merencanakan Kyoryu Sentai Zyuranger (1992). Kala itu, staf berpikir itu mungkin akan menjadi entri terakhir. Pemikiran ini mendorong staf muda untuk mencoba sesuatu yang berbeda, seperti memperkenalkan anggota keenam reguler di pertengahan cerita untuk pertama kalinya.
Siapa sangka, Zyuranger justru menjadi basis bagi Power Rangers dan memperpanjang nafas Super Sentai hingga tiga dekade lagi. Kesuksesan ini sebenarnya lahir dari serangkaian kebetulan. Awalnya, konsep ini lahir dari kegagalan upaya membuat project yang menampilkan lima Kamen Rider bertarung bersama.
Kegagalan itu memicu kreator Kamen Rider, Shotaro Ishinomori, untuk mengembangkan Himitsu Sentai Gorenger. Elemen robot raksasa pun baru ditambahkan setelah anime robot populer mengakhiri masa tayang TV mereka di tahun 1970-an. Kini, Shirakura menutup wawancara dengan isyarat perubahan arah dalam pertunjukan pahlawan, secara spesifik menyebutkan Super Space Sheriff Gavan Infinity.
Tampaknya, Toei siap melakukan perjudian besar lagi demi relevansi di masa depan. Mari kita nantikan bagaimana wajah baru pahlawan Tokusatsu di era mendatang.
Source: Asahi (Yasuyuki Onaya) via Anime News Network
































