Bertahan hidup akibat terdampar di sebuah tempat asing memang telah menjadi tema cerita yang sudah lama ada dan masih cukup diminati hingga saat ini. Pasalnya situasi ekstrem seperti itu bisa menghadirkan beragam konflik dan intrik yang menjadi bumbu Istimewa bagi pemirsanya. Tidak jarang bahkan kisah bertahan hidup akibat terdampar di tempat asing yang terisolasi pun dibumbui dengan genre horror dan thriller, seperti dikejar oleh pembunuh berdarah dingin atau zombie.

Di video game, format cerita tersebut bisa ditemukan di berbagai game action terkenal seperti Resident Evil yang mengharuskan kamu untuk selamat dari manusia setengah monster dan beraneka ragam zombie. Namun bagaimana jika elemen survival, thriller, dan horror tersebut dihadirkan di game strategy? Serta bagaimana jika cerita utamanya adalah bagaimana caranya bertahan hidup di sebuah planet asing yang dipenuhi oleh Xenomorph, monster mengerikan dari seri Aliens? Itulah yang bakal kamu hadapi saat bermain Aliens: Dark Descent.

Sekilas Mengenai Seri Aliens

Sesuai dengan namanya, Aliens: Dark Descent merupakan game yang menggunakan cerita dari seri Aliens yang pertama kali muncul sebagai film pada tahun 1979. Film tersebut pun disambut sangat meriah dan berhasil mempopulerkan genre film science fiction dan horror. Setelah film tersebut, seri Aliens dikembangkan dalam berbagai format mulai dari buku, video game, hingga mainan.

Salah satu karakter paling penting di seri Alien adalah Xenomorph yang merupakan wujud dari alien itu sendiri. Xenomorph merupakan monster yang sangat lincah dan kuat, memiliki dua mulut dengan gigi taring tajam, serta mulut kedua yang bisa digunakan untuk menjebol tulang tengkorak manusia. Saking mengerikannya, Xenomorph pun dijadikan salah satu simbol kengerian di luar angkasa hingga saat ini. Di game Aliens: Dark Descent, kamu bisa mempelajari lebih jauh mengenai jenis-jenis Xenomorph serta berbagai karakteristiknya

Selain Xenomorph, kamu juga akan mendengar karakter di dalam game ini membicarakan mengenai Weylan Yutani, yaitu mega korporasi yang menjadi pionir dalam eksplorasi luar angkasa. Weylan Yutani merupakan perusahaan yang digambarkan sangat rakus dan sempat ingin mengekploitasi Xenomorph. Weylan Yutani juga memiliki banyak sekali koloni di luar angkasa untuk menopang berbagai bisnisnya yang sebagian besar merupakan sektor pertambangan.

Terdampar di Planet yang Salah dan Pada Waktu yang Tidak Tepat

Aliens: Dark Descent merupakan game dengan tema survival yang tidak biasa. Tidak hanya sekadar terdampar di planet asing bernama Lethe, cerita game ini dibawa ke kondisi yang sangat ekstrem.

Mengambil sudut pandang sebagai orang ketiga (third-person), kamu memang tidak memerankan seseorang secara spesifik di dalam game ini. Dengan kata lain, Aliens: Dark Descent bukan merupakan game role-playing. Meski demikian, ceritanya tergolong cukup menarik dengan intrik detail khas seri Aliens yang menambah nuansa mencekam ke dalam game ini.

Aliens: Dark Descent mengambil cerita di tahun 2198, yaitu ketika Xenomorph tiba-tiba muncul di planet koloni milik Weylan Yutani bernama Lethe. Munculnya Xenomorph dimulai dari stasiun luar angksa Pioneer yang mengorbit planet Lethe. Berawal dari dibongkarnya kargo asing yang ternyata berisi telur Xenomorph, stasiun luar angkasa tersebut pun secara seketika berubah menjadi lahan pembantaian masal.

Untuk mencegah supaya Xenomorph tidak pergi ke planet lain, Administrator Maeko Hayes yang sedang berada di stasiun luar angksa tersebut pun mengaktifkan Cerberus Protocol, sebuah sistem yang memastikan tidak ada pesawat keluar dan masuk planet Lethe. Hayes berasumsi bahwa Cerberus Protocol dapat mengkarantina planet dan mencegah lebih banyak korban. Sayangnya asumsi Hayes salah besar.

Sialnya (atau mungkin sudah menjadi takdir), sebuah kapal militer yaitu USS Otago sedang berada di orbit planet Lethe yang tentunya terkena dampak langsung dari Cerberus Protocol. USS Otago pun mendarat darurat di lokasi yang tidak disebutkan, namun jauh dari berbagai lokasi padat penduduk. Kondisinya parah dan tidak bisa lagi digunakan untuk keluar dari planet Lethe.

Sementara itu, Hayes yang masih berada di Pioneer berhasil lari dari kejaran Xenomorph dan diselamatkan oleh USCM (United States Colonial Marines) yang dipimpin oleh Sergeant Jonas Harper. Hayes kemudian dievakuasi ke USS Otago dan bersama Harper mereka berusaha untuk menyelamatkan warga dari ancaman Xenomorph sekaligus mencari cara keluar dari planet Lethe. Tentu saja hal tersebut tidak mudah dan mereka juga harus berhadapan dengan misteri bagaimana Xenomorph bisa hadir di planet Lethe.

Real-Time XCOM dengan Bumbu Horor Mencekam

Bermain Aliens: Dark Descent mengingatkan saya dengan game XCOM, yaitu game turn-based strategy yang berfokus pada micromanagement. Alih-alih mengendalikan pasukan atau armada besar, di Aliens: Dark Descent kamu diminta untukmengomandani satu regu tempur berisi empat orang (yang nantinya bisa ditambah menjadi lima orang). Bedanya, di game ini kamu tidak bermain secara turn-based, tetapi real-time sehingga setiap detik menjadi momen hidup atau mati dari regu tempur kamu.

Regu tempur tersebut terdiri dari prajurit USCM yang memang tugas utamanya adalah melindungi warga di planet koloni Amerika Serikat seperti Lethe. Mereka adalah prajurit terlatih dan profesional, bukan pemberontak atau regu sukarela. Namun pada akhirnya ini adalah game dengan nama Aliens yang artinya para prajurit ini akan merhadapan dengan Xenomorph yang jauh lebih mengerikan dari ancaman lainnya.

Di Aliens: Dark Descent, kamu akan bertindak layaknya komandan meski sudut pandangnya adalah pihak ketiga. Kadang kamu menjadi Hayes, dan kadang menjadi Harper. Game ini juga memiliki mekanisme manajemen sumber daya yang cukup kompleks yang mana USS Otago dijadikan pusat komando dan markas utamanya. Mirip XCOM, kamu bisa melakukan upgrade prajurit, upgrade peralatan tempur termasuk senjata, hingga melakukan riset. Terdapat pula Medbay atau klinik yang menjadi tempat untuk dirawatnya para prajurit terluka bahkan terkena “serangan mental” (ingat, kamu sedang berperang dengan monster!).

Setelah naik ke pangkat tertentu, setiap prajurit dapat dipromosikan menjadi spesialis seperti Gunner yang merupakan spesialis senjata berat, Medic yang bertugas memastikan semua prajurit dapat bertempur tanpa gangguan luka berat, serta Recon yang memiliki sudut penglihatan lebih luas serta dapat menembak musuh tanpa suara. Ya, suara berisik dapat menyebabkan para Xenomorph langsung berhamburan dating ke tempat kamu!

Yang paling menarik dari Aliens: Dark Descent adalah mekanisme pertempurannya. Kamu akan diminta untuk menjelajahi map yang disediakan dengan tugas-tugas khusus seperti mencari orang tertentu, atau bahkan mencari material khusus agar USS Otago bisa diperbaiki. Tentu saja, kamu akan berhadapan dengan Xenomorph yang sangat saya sarankan untuk sebisa mungkin dihindari. Mengapa?

Xenomorph tidak hanya sulit untuk dilawan, tetapi juga dapat membuat prajurit kamu semakin stress setiap kali berhadapan dengan Xenomorph. Tingkatan stress akan berpengaruh pada performa tempur dan prajurit yang terkena stress tidak hanya akan mendapatkan poin trauma yang bisa menumpuk menjadi phobia, tetapi juga akurasi tembaknya akan berkurang secara drastis. Dengan kata lain, Xenomorph akan lebih sulit lagi untuk dibunuh… Hehehehe!

Untungnya Aliens: Dark Descent tidak sekejam itu. Kamu masih bisa beristirahat di ruangan kosong tertentu dengan membarikade pintu masuknya. Istirahat tidak hanya memulihkan stress, tetapi juga bisa menambah jumlah amunisi. Berbicara mengenai amunisi, kmu juga hanya bisa membawa amunisi secara sangat terbatas di game ini. Meski demikian, amunisi serta berbagai peralatan tempur lainnya bisa kamu temukan di map. Jadi pilihan kamu ada dua, yaitu langsung menuju tempat misi dengan amunisi terbatas, atau bisa menjelajah terlebih dulu namun dengan kemungkinan bertempur melawan Xenomorph yang lebih besar.

Terakhir, bukan seri Aliens jika tidak ada elemen horor di dalamnya. Aliens: Dark Descent berhasil membawakan elemen tersebut melalui music yang mencekam, cutscene mengerikan, serta desain map-nya yang luar biasa memudahkan kamu untuk tegang seketika. Motion sensor khas di seri Aliens juga Kembali hadir di sini, sehingga kamu bisa tahu posisi Xenomorph dan musuh lainnya di map, tentunya dengan jangkauan yang sangat terbatas.

Motion sensor membuat citra rasa horor di game ini semakin kental karena adrenalin kamu akan meningkat ketika kamu tahu bahwa di sana ada Xenomorph. Tidak hanya itu, kamu juga bisa melihat bagaimana Xenomorph datang memburu kamu dengan kecepatan lari yang luar biasa hanya melalui motion tracker. Jadi… Ya, meski ini adalah game tactical, namun nuansa horornya tidak boleh dianggap remeh.

Sedikit Bug dan Kendala Saat Menggunakan Controller

Beralih ke sistem game-nya, secara menyeluruh saya cukup nyaman saat bermain game ini bahkan di berbagai jenis device mulai dari laptop hinngga handheld ROG Ally. Performa game inin juga tergolong sangat baik yang mana masih dapat dimainkan tanpa hambatan di ROG Ally Z1 Extreme pada resolusi 900p 18W dengan detail grafis high.

Meski demikian, ada beberapa kekurangan yang perlu saya sampaikan di Aliens: Dark Descent. Pertama adalah kualitas grafis dan animasi karakternya tergolong ketinggalan zaman, meski detail environment map-nya luar biasa bagus. Kedua, menu di game ini kadang tidak bisa diakses ketika menggunakan controller sehingga kadang saya harus memaksanya dengan mouse dan keyboard. Yang terakhir, ada beberapa bug dan glitch di dalam game meski tidak berpengaruh ke mekanisme gameplay dan hanya mengganggu dari sisi visual.

Pengalaman Baru

Apa yang ditawarkan oleh Aliens: Dark Descent merupakan sebuah pengalaman baru, karena selama ini saya belum pernah memainkan game real-time tactical dengan nuansa horor yang menegangkan. Game ini juga terasa sangat otentik dan sangat baik dalam merepresentasikan serial Aliens, mulai dari soundtrack, sound effect, hingga desain visual yang membawa saya Kembali bernostalgia dengan film klasiknya.

Aliens: Dark Descent

Aliens- Dark Descent
Gameplay
Story
Feature

Summary

Aliens: Dark Descent menawarkan pengalaman baru untuk game real-time tactical yang tidak hanya otentik, tetapi juga sangat menegangkan. Sayang game ini masih punya sedikit bug dan glitch meski tidak mengganggu mekanisme gameplay-nya.

4
Steam Curator Page

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini