Bagaimana jika sebuah anime diproduksi hampir sepenuhnya dengan bantuan AI? Twins Hinahima adalah proyek animasi terbaru yang mencoba menjawab pertanyaan ini dengan menggabungkan kecerdasan buatan dalam hampir seluruh aspek produksinya.
Lebih dari sekadar eksperimen teknologi, anime ini juga mengangkat tema yang sangat relevan dengan generasi digital saat ini: dunia media sosial dan keinginan untuk menjadi viral. Melalui pendekatan produksi berbasis AI dan konsep cerita yang dekat dengan kehidupan modern, Twins Hinahima menjadi tontonan yang menarik bagi penggemar anime dan antusias teknologi.
Story
Twins Hinahima mengikuti kisah Himari dan Hinana, dua gadis kembar yang duduk di tahun pertama SMA di Tokyo. Mereka ingin menjadi viral dan mulai mengunggah berbagai video di TikTok, dari tantangan tari hingga konten hiburan lainnya.
Namun, semakin mereka terlibat dalam dunia media sosial, semakin banyak kejadian aneh yang terjadi di sekitar mereka. Hal yang awalnya tampak seperti tren biasa berubah menjadi sesuatu yang lebih misterius. Apa yang sebenarnya terjadi di balik layar kehidupan digital mereka?
AI Sebagai Alat Pendukung Kreator
Anime ini bukan hanya proyek hiburan, tetapi juga eksperimen dalam mengintegrasikan AI ke dalam industri animasi. Lebih dari 95% adegan dalam Twins Hinahima dibuat menggunakan AI, dengan tahap akhir tetap dikerjakan secara manual untuk memastikan hasil akhirnya sesuai dengan standar industri.
Proyek ini mengusung konsep supportive AI, di mana AI digunakan sebagai alat pendukung kreator, bukan sebagai pengganti mereka. Dengan semakin berkembangnya AI, proyek ini berupaya menjembatani kesenjangan antara kreator dan teknologi, meningkatkan efisiensi tanpa mengurangi kreativitas.

Salah satu contoh penerapan AI dalam produksi anime ini terlihat dalam pembuatan key visual:
- CLIP STUDIO PAINT – Untuk menggambar karakter utama sebelum diproses lebih lanjut dengan AI.
- AI Image Processing – Untuk mengonversi foto menjadi latar belakang bergaya anime sebelum diperhalus oleh tim kreatif.
- Adobe Illustrator – Untuk membuat logo dengan tampilan khas anime.
- Adobe Photoshop dan Adobe After Effects – Untuk memproses efek visual dan komposisi akhir agar lebih dinamis.
Pendekatan ini menjadikan Twins Hinahima sebagai contoh bagaimana AI dapat menjadi alat bantu yang mempercepat produksi dan memungkinkan eksplorasi metode baru dalam animasi, tanpa sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam proses kreatif.
Produksi
Anime ini dikerjakan oleh tim profesional dengan pengalaman di berbagai proyek animasi. Kō Nakano bertindak sebagai Director di KaKa Technology Studio, sementara Yū Shinada mengisi peran sebagai Scriptwriter. Takumi Yokota (Love Live! Nijigasaki High School Idol Club) menjadi Character Designer, dan Ultra-Noob menjabat sebagai AI / 3D Technical Director.
Selain itu, tim produksi juga mencakup:
- Main Animator: Yōsuke Kudō
- 3D Animation Director: Shū Kawamura
- 3D Modeling: Sakamoto Shōkai
- Director of Photography: Tadayoshi Ozawa
- Assistant Sound Director: Koichi Kikuchi
- Sound: Noix
- Producer: Naomichi Iizuka
Dari sisi pengisi suara, Sae Hiratsuka akan berperan sebagai Himari, sementara Yurie Igoma mengisi suara Hinana. Mayu Sagara juga turut berpartisipasi dalam proyek ini sebagai pengisi suara karakter pendukung. Selain itu, Hiratsuka dan Igoma juga akan membawakan lagu pembuka berjudul “Augment Day!”, sementara lagu penutup “6:00 PM” akan dinyanyikan oleh CHiCO.
Twins Hinahima bukan hanya anime biasa, tetapi juga representasi bagaimana AI dapat diterapkan dalam industri kreatif. Dengan konsep supportive AI, proyek ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi alat untuk mempercepat produksi dan menghadirkan metode baru dalam animasi tanpa menghilangkan sentuhan manusia.
Source: Twins Hinahima anime website, PR Times





























