Dari sekian banyaknya game yang diperbincangkan untuk terbit di tahun 2025, game Assassin’s Creed Shadows dari Ubisoft mungkin salah satu yang menjadi perhatian banyak orang.
Hanya saja, kali ini bukan untuk alasan yang begitu manis. Ubisoft terlihat “mempertaruhkan nasibnya” pada keberhasilan Assassin’s Creed Shadows, setelah melewati berbagai kontroversi tentang tema feodal Jepang yang berakhir dengan permintaan maaf resmi dari Ubisoft (dan beberapa kali penundaan waktu rilis). Akhir cerita, Assassin’s Creed Shadows pun resmi rilis pada tanggal 20 Maret 2025.
Sebenarnya cukup sulit untuk tidak membandingkan Asssassin’s Creed Shadows dengan game berlatar belakang Jepang lainnya, terutama dengan tema karakter utama seorang samurai dan juga shinobi. Di sisi satunya, Ubisoft ingin tetap mengedepankan RPG dengan karakter utama Samurai, sedangkan tema Assassin masih selayaknya menjadi bagian sentral tema Assassin’s Creed sendiri.
Tapi pertanyaan besarnya, apakah dapat menandingi Ghost of Tsushima atau Rise of The Ronin yang rilis di PC pada 2024 dari sisi RPG? Apakah Ubisoft mampu memberikan pengalaman game AAA yang serupa? Setelah bermain sekitar 45 jam menelusuri dunia feudal Jepang yang disajikan, termasuk mencoba pengalaman dua karakter utama, saya bisa mengatakan bahwa Ubisoft memberikan sebuah pengalaman yang unik di Assassin’s Creed Shadows.
Dua Mekanik Berbeda yang Berpadu Cukup Harmonis

Bagi Assassin’s Creed Series era modern yang selalu dihadapkan dengan dilema antara fokus pada stealth atau RPG (dan menjadi poin perdebatan bagi para fans), bisa dibilang keberadaan Naoe dan Yasuke menjadi solusi baik untuk hal ini, mayoritas dikarenakan keduanya memiliki kapabilitas stealth dan combat masing-masing, namun tetap memberikan keunikannya.
Untuk menjawab keresahan tentang bagian “Creed” dari Assassin’s Creed ini sendiri, Naoe hadir sebagai karakter utama dengan latar belakang terkait.
Cara Ubisoft memperkenalkannya pun menarik. Beberapa fase pertama cerita difokuskan pada Naoe dan hanya bisa berganti pada Yasuke pada fase cerita tertentu (Meskipun ada beberapa menit permainan sebagai Yasuke dalam ceritanya, sepertinya untuk teaser). Karena Naoe sendiri memang dididik sebagai seorang shinobi, maka dari skill tree maupun mekanik sangat mirip seperti Assassin pada seri-seri game awal.

Mekanik stealth pada Shadows pun relatif cukup matang dipikirkan. Pada pengaturan difficulty yang tinggi, mengendap-ngendap perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan, mulai: jarak pandang musuh, suara pergerakan karakter utama, termasuk siang/malam atau bahkan cuaca dari 4 musim yang tersedia.
Tentu, selalu lebih mudah melakukan infiltrasi pada malam hari, seperti banyak quest yang tersedia, namun di banyak kesempatan, karakter utama perlu melakukan quest pada siang hari, di mana jarak pandang begitu jauh. Dan juga, atap bangunan tidak selalu aman. Di pengaturan yang sama, musuh yang telah sadar akan keberadaan penyusup akan menghampiri lokasi terakhir, bahkan naik ke sudut-sudut lokasi terakhir. Meskipun begitu, sebagai Naoe, tetap mudah untuk masuk/keluar.

Di sisi lain, Yasuke bisa dibilang merupakan satu representasi karakter dengan RPG sebagai tombak utamanya. Dengan armor dan postur tubuh Yasuke, kita tidak begitu bisa melakukan parkour.
Alih-alih, Yasuke dapat mendobrak pintu-pintu kastil (bahkan menabrak musuh) dan menghadapi berbagai musuh muka dengan muka. Meskipun Yasuke bisa digunakan untuk stealth dalam kondisi tertentu, tulisan “brutal assassinate” menunjukkan secara halus bahwa Ubisoft ingin pemainnya menggunakan Yasuke untuk menghantam langsung objektif (dan memang lebih nyaman seperti itu).

Namun, bisa dikatakan Yasuke merupakan karakter “RPG” yang tipikal dalam seri Assassins’s Creed era modern. Tiga senjata utama Yasuke yang adalah katana, naginata, dan kanebo, terasa nyaman dan mulus untuk digunakan dalam berbagai situasi. Skill yang digunakan Yasuke pun fokus pada brutalitas dan kontinuitas yang ditunjukkan pada bar darah dan adrenalin yang lebih banyak dibandingkan Naoe.

Meski Yasuke memang dibuat untuk memenuhi aspek RPG terkait, namun Naoe pun masih bisa melakukan berbagai macam pertarungan langsung.
Naoe dan Yasuke pun akhirnya, setelah beberapa fase cerita, dapat digunakan secara bergantian kapapun dengan mengakses bagian inventory. Dalam mayoritas quest yang ada pun, pemain diberikan pilihan untuk mengeksekusi cerita sebagai Yasuke atau Naoe. Jadi, dua karakter ini tentu sangat berbeda, namun dapat digunakan secara bergantian dan harmonis.
Setting “Simpel” Namun Cukup Menawan

Dapat diperdebatkan, namun salah satu poin menarik yang bisa diberikan kepada Ubisoft adalah dunia feudal Jepang yang indah dipandang. diberikan pujian untuk dunia dan jepang yang Map yang disajikan pada Assassin’s Creed Shadows pun begitu luas dan juga estetik.
Jika ada poin yang menjadi catatan untuk dunia ini, mungkin adalah eksplorasi yang cukup monoton. Dengan kata lain, kebanyakan side quest maupun interaksi unik dengan NPC dilakukan di tempat tertentu seperti suatu pemukiman atau kuil.

Map yang disajikan pun cukup standar, mirip seperti pada seri Valhalla. Bedanya, kali ini Shadows menyajikan empat musim yang dapat mempengaruhi munculnya objek unik eksklusif musimnya, dan juga scout yang dapat melakukan survey untuk memunculkan ikon quest yang pasti, karena kebanyakan quest hanya memberikan clue saja. Di area tertentu yang sangat luas dan di beberapa quest tertentu, terkadang “tebakan” kita bisa saja tidak terbaca dengan baik.

Poin synchronize yang menjadi mekanik klasik seri ini untuk membuka poin-poin map penting pun tidak lagi menjadi persyaratan utama. Hal ini tentu ada plus dan minus. Terkadang, titik survey ini berada di lokasi yang cukup tinggi, bahkan di lokasi markas musuh yang akan langsung melakukan kombat pada karakter utama.
Dan juga, terdapat mekanik baru kakurega yaitu sejenis markas kecil untuk pemain dapat melakukan fast travel, sehingga eksplorasi secara manual lebih membuahkan hasil (mungkin detail tentang dunia bisa lebih jelas dengan pengaturan tertentu).
Kustomisasi Minimalis yang Memberikan Sentuhan Baru

Rasanya kurang lengkap kalau belum memberikan komentar tentang kustomisasi yang diberikan oleh Assassin’s Creed Shadows. Mengingat elemen “RPG”, Ubisoft memberikan banyak pilihan senjata yang dapat digunakan, dibalut dalam UI yang sederhana namun mudah dimengerti.
Untuk Naoe dan Yasuke, keduanya diberikan pilihan untuk mengengakan 2 jenis senjata, 1 jenis tunggangan, 2 jenis armor, dan 1 jenis aksesoris. Seiring berjalannya waktu bermain, pemain akan mendapatkan banyak loot untuk mengisi berbagai perlengkapan armor dan senjata. Berbeda armor pun dapat memberikan efek yang berbeda, namun level perlengkapan (dan juga level karakter) tetap menjadi penentu utama apakah Naoe dan Yasuke dapat memberikan damage yang berarti.


Karakter dapat mengenakan dua macam skill aktif yang berkaitan dengan senjata yang digunakan, serta satu skill aktif untuk profesi yang sedang dibangun. Lewat update terbaru, Ubisoft yang memberikan kesempatan pemain untuk mengatur ulang poin pada skill tree, yaitu pemain dapat mencoba berbagai senjata yang cocok dengan playstyle sendiri, sebuah update yang baik.
Skill aktif ini menggunakan satu adrenaline point untuk setiap eksekusinya, namun poin itu pun mudah didapat saat bertarung atau melakukan assassinate, ditambah lagi berbagai engraving tambahan yang dapat disematkan pada senjata.
Sedikit tips untuk pemain, terdapat skill pasif bersifat global yang berarti skill pasif tersebut berlaku untuk karakter terlepas build apapun yang sedang digunakan. Jadi, sesuaikan saja kebutuhannya.

Berbagai detail tentang dunia Shadows beserta trivia pun dapat ditemukan pada bagian codex. Kolom-kolom ini berisi teks-teks yang dapat memberikan pengetahuan cepat bagi yang penasaran. Tentu, karena ini adalah game, maka pemain sebaiknya melakukan kroscek ulang keabsahan informasi tentang feudal Jepang yang terdapat dalam game ini.
Poin Catatan untuk Assassin’s Creed Shadows

Tetap saja, dengan pengalaman bermain yang cukup mulus, Assassin’s Creed Shadows dan seri selanjutnya masih perlu untuk memberikan alur cerita dan objektif yang lebih linear. Salah satu poin menarik dari seri Assassin’s Creed era dahulu bukanlah hanya tentang stealth, melainkan tiap pembunuhan terasa signifikan dan menggerakan cerita cukup signifikan, tanpa mengabaikan sisi open world.
Dalam Assassin’s Creed Shadows, terdapat begitu banyak side quest pembunuhan yang membuat musuh utama terasa kecil dan kurang signifikan. Dalam seri berikutnya di project Hexe, penulis berharap Ubisoft mengerucutkan komplotan musuh utama menjadi beberapa figur yang signifikan, yang lebih sulit untuk digapai.
Jadi, Bagaimana Assassin’s Creed Shadows?

Kesimpulannya, Assassin’s Creed Shadows merupakan seri yang bisa dibilang layak untuk mendapatkan predikat “sangat bagus”. Ubisoft terlihat memberikan usaha yang keras untuk menyajikan latar Asia pertama di seri Assassin’s Creed Modern. RPG terasa mulus, stealth pun terasa cukup solid. Seri ini cocok untuk pemain baru, maupun pemain lama yang ingin bernostalgia tentang pengalaman Assassin’s Creed.
Kelebihan
- Balance stealth dan RPG yang baik dan mudah diakses
- World-building yang estetik dan begitu luas
- Kustomisasi yang cukup luas namun terstruktur untuk simplisitas pemain
Kekurangan
- Misi assassination dapat terasa tawar dikarenakan banyaknya target
- Tidak banyak interaksi dengan dunia/NPC di luar tempat pemukiman/kuil
- Cerita utama Assassin’s Creed masih terasa cerita sampingan
Assassin’s Creed Shadows
Summary
Assassin’s Creed Shadows merupakan seri yang bisa dibilang layak untuk mendapatkan predikat “sangat bagus”. Ubisoft terlihat memberikan usaha yang keras untuk menyajikan latar Asia pertama di seri Assassin’s Creed Modern. RPG terasa mulus, stealth pun terasa cukup solid. Seri ini cocok untuk pemain baru, maupun pemain lama yang ingin bernostalgia tentang pengalaman Assassin’s Creed.





























