“Complex but not complicated.” Penyataan singkat dari salah satu developer game tabletop indie tersebut merupakan salah satu yang paling kami suka jika berbicara mengenai video game, khususnya game strategi seperti Total War: Warhammer III.
Bagi kami, penyataan tersebut sangat penting dan harus diperhatikan oleh para developer saat mengembangkan game-nya. Sebuah game tidak boleh memiliki mekanisme gameplay yang rumit (complicated) karena berpotensi membuat pemainnya menjadi frustasi dan meninggalkan kesan buruk pada game tersebut. Namun di sisi lain, sebuah game juga harus bersifat “complex” melalui mekanisme gameplay yang menantang.

Tidak mudah memang menciptakan game yang “complex but not complicated”, apalagi dalam konteks sebuah game strategi yang memiliki banyak variabel yang harus dipertimbangkan. Tidak heran jika jumlah game strategi di platform gaming manapun pasti dikalahkan oleh game yang lebih mudah diakses oleh semua orang seperti game action.
Dari semua game strategi yang pernah kami mainkan, hanya segelintir game yang bisa merepresentasikan pernyataan “complex but not complicated” dengan baik. Salah satu game tersebut adalah Total War Warhammer III.
Di artikel kali ini, kami tidak hanya akan mengulas bagaimana mekanisme gameplay, story, hingga fitur-fitur di game Total War Warhammer III beserta DLC terbarunya yang berjudul “Omens of Destruction”, tetapi juga bagaimana kami yang pada mulanya cukup skeptis hingga menjadi sangat penasaran dengan game ini.
Seri Game Total War Paling Sukses
Total War merupakan seri game strategi yang dikembangkan oleh Creative Assembly dengan judul pertamanya yaitu Shogun: Total War yang dirilis pada tahun 2000. Keunikan seri game Total War terletak di mekanisme gameplay-nya yang menggabungkan elemen turn-based, 4X, dan real-time strategy dengan pertempuran masif.

Di dalam game ini, gamers dituntut untuk berperan layaknya komandan perang yang tidak hanya mengurusi bagaimana pertempuran berjalan, tetapi juga berkutat di politik, diplomasi, hingga logistik. Simpelnya, game ini memiliki mekanisme gameplay yang lebih kompleks dibandingkan game strategi pada umumnya.
Sebagian besar seri game Total War juga menggunakan latar belakang sejarah nyata, seperti Shogun: Total War, Napoleon: Total War, Total War: Three Kigdom, dan Total War: Pharaoh. Namun game yang kami review kali ini berbeda, karena Total War: Warhammer III merupakan game dengan latar belakang dark fantasy. Ya, di dalam game ini kamu bakal menjadi komandan dari pasukan fantasi seperti Orc, Elf, Dwarf, hingga Ogre dan Chaos.
Yang membuat kami penasaran dengan Total War: Warhammer III adalah fakta bahwa seri game Total War: Warhammer merupakan seri paling sukses di antara seri Total War lainnya. Tidak hanya memiliki tiga judul game, Total War: Warhammer juga sudah hadir dengan sejumlah DLC.
Mengapa seri Total War: Warhammer secara keseluruhan bisa sangat diminati ketimbang seri lainnya? Jawabannya ada di kombinasi gameplay yang menarik, menantang, dan dapat membuat kami ketagihan.
Alasan Kenapa Total War: Warhammer III Bikin Ketagihan
Kami adalah gamers yang cukup beruntung karena sempat merasakan masa-masa kejayaan game strategi, yaitu awal tahun 2000-an. Pada saat itu, game seperti Command & Conquer, Age of Empires, Starcraft, Warcraft, serta termasuk Total War sangat diminati oleh para gamers PC.

Sekarang popularitas game-game strategy tersebut kalah oleh game action, shooter, dan live service. Mungkin salah satu penyebabnya adalah game strategy seringkali hadir dengan mekanisme gameplay yang lebih kompleks dibandingkan dengan game-game populer saat ini.
Kesan pertama kami terhadap Total War: Warhammer III sebenarnya tidak terlalu bagus. Di mode campaign yang merupakan tutorial, kami dihujani dengan banyak sekali informasi mengenai mekanisme dan cerita yang melatarbelakangi game ini.
Semuanya terasa sangat rumit. Kami tidak tahu kenapa ada kubu ini dan itu, kenapa musuh memiliki unit berupa monster raksasa, bagaimana menempatkan pasukan dengan formasi yang tepat, sampai bagaimana memaksimalkan setiap kesempatan yang ada untuk membuat arah perang menjadi berpihak kepada kami.
Namun kami sangat penasaran, sehingga kami mulai membaca halaman FAQ yang ada di dalam game satu per satu. Untungnya, Total War: Warhammer III memiliki sistem FAQ yang solid. Setiap istilah penting akan di-highlight dan diklik, kemudian akan muncul penjelasan lengkapnya.
Jujur saja ada banyak sekali yang harus kamu pelajari sebelum kamu mahir memainkan Total War: Warhammer III. Mulai dari mempelajari tiap faksi, mempelajari tiap-tiap unit-nya, spesialisasinya, dan gaya bermainnya karena tiap faksi punya gaya bermain yang sangat kontras.
Sebagai informasi tambahan, Total War: Warhammer III memungkinkan kamu memainkan 24 faksi! Setiap faksi memiliki sistem ekonomi dan militer yang berbeda. Setiap faksi juga memiliki Legendary Lord atau pemimpin utama yang jumlahnya cukup banyak dengan traits atau status yang berbeda-beda.

Misal, faksi Ogre tidak hanya membutuhkan gold, tetapi juga meat untuk “membiayai” peperangan. Namun faksi Ogre lebih bersifat nomaden dan bisa membuat camp di hampir setiap lokasi di map.
Ogre juga memiliki pasukan dengan status defense dan hit point yang di atas rata-rata faksi lainnya. Namun mereka merupakan faksi yang tidak ramah dan sulit sekali menjalin hubungan diplomasi dengan faksi lainnya.
Minusnya, kamu harus membeli DLC beserta base game Total War: Warhammer serta Total War: Warhammer II untuk bisa mencoba semua faksi dan Legendary Lord yang ada.
Kompleks? Memang. Tapi itulah yang membuat kami penasaran. Selama kamu mau belajar mengenai mekanisme game-nya, Total War: Warhammer III akan menjadi game yang bisa membuat kamu ketagihan.
Perang Besar Berbasis Turn-Based dan Real-Time Khas Total War
Sama seperti game Total War lainnya, Total War: Warhammer III juga bakal membawa kamu ke perang besar melawan puluhan faksi dan ratusan Legendary Lord dalam satu map berukuran besar.
Sayangnya, kamu tidak bisa memilih map, karena map yang disajikan sesuai dengan cerita dari Warhammer. Kamu juga tidak bisa memilih lokasi dimulainya permainan karena harus mengikuti alur cerita dari tiap-tiap faksi dan Legendary Lord di dalam Total War: Warhammer III.
Meski demikian, sistem tersebut justru membawa tantangan tersendiri. Dari lokasi awal permainan, kamu jadi mengerti mengapa faksi yang kamu mainkan ditempatkan di sana. Tidak hanya itu, kamu juga bakal mengerti keunggulan unit dan taktik perang seperti apa yang bisa kamu adopsi dari lokasi tersebut.

Sebagian besar game ini berjalan secara turn-based. Mulai dari mengembangkan kota atau settlement, merekrut pasukan, membuat rute dagang, hingga memindahkan pasukan. Semuanya berbasis turn-based atau bergiliran seperti halnya bermain catur, namun dengan skala yang jauh lebih besar.
Pertempuran juga bisa dilakukan secara otomatis dengan memperhitungkan kekuatan pasukan yang menyerang dan diserang. Pertempuran baru berjalan real-time saat quest dan jika kamu memang ingin berperang secara langsung.
Memilih opsi bertempur secara real-time punya keuntungan tersendiri. Jika kamu pandai dalam memimpin pasukan perang, maka kamu bisa saja menang dengan jumlah pasukan lebih sedikit. Dengan demikian, kamu bisa membantai lebih banyak pasukan musuh dengan modal pasukan yang lebih sedikit.
Meski demikian, peperangan real-time di Total War: Warhammer III tetap bukan perkara mudah karena ada banyak hal yang harus diperhatikan.
Pertama adalah posisi awal pasukan. Posisi tersebut akan menentukan prestasi perang kamu. Ada baiknya jika kamu menempatkan pasukan di lokasi yang lebih tinggi dengan sudut pandang yang minim gangguan seperti tidak ada pohon atau objek lain yang menghalangi jarak pandang. Dengan demikian kamu bakal bisa membaca pergerakan pasukan musuh.

Membaca pergerakan pasukan musuh sangat penting di pertempuran real-time Total War: Warhammer III karena teknik flanking, atau menyerang dari samping atau belakang, merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk membuat moral pasukan musuh anjlok. Selain itu, kamu juga harus bisa mengantisipasi pasukan bantuan yang bisa muncul dari sisi tertentu.
Kedua, kamu harus bisa mempertahankan formasi pasukan, karena pasukan yang tercerai berai merupakan sasaran empuk untuk serangan flanking. Menempatkan pasukan juga tidak bisa sembarangan karena setiap pasukan punya peran masing-masing.
Di faksi The Empire misalnya, pasukan spearmen sangat ampuh untuk menahan laju musuh, khususnya kavaleri, namun lemah terhadap serangan projektil panah dan meriam. Swordsmen di sisi lain berperan sebagai pasukan eksekusi yang membantai musuh sementara mereka ditahan oleh spearmen.
Singkatnya kamu bisa menggunakan taktik ortodoks perang di abad pertengahan, yaitu menggunakan formasi unit penahan seperti spearmen di depan, unit eksekusi seperti swordsmen di lapisan kedua, lalu unit proyektil seperti archer dan artileri di lapisan ketiga. Meski demikian, ini adalah game Total War yang memungkinkan kamu untuk dapat lebih kreatif dalam memformulasikan formasi sesuai dengan kondisi di medan perang.
Yang paling seri dari sistem pertempuran real-time di Total War: Warhammer III adalah setiap faksi dan Legendary Lord memiliki gaya perang tersendiri berkat tipe unit, status, dan teknologi yang dimilikinya. Legendary Lord juga dapat hadir di medan perang sebagai Hero unit dengan kekuatan dan kemampuan khusus yang bisa membalikkan arah pertempuran.
Konten Melimpah Melalui DLC
Total ada 24 faksi dan 96 Legendary Lord yang bisa kamu mainkan di game ini. Dibandingkan dengan game-game strategy lainnya, jumlah faksi tersebut tentu sangat banyak dan bisa membuat kamu tidak akan bosan dengan game ini.
Sayangnya, tidak semua faksi dan Legendary Lord bisa kamu mainkan langsung. Sebagian besar harus ditebus melalui DLC yang jumlahnya juga cukup banyak. Salah satu DLC yang baru saja dirilis adalah “Omens of Destruction” yang menghadirkan tiga Legendary Lord baru.
Gorbad Ironclaw
Legendary Lord baru pertama adalah Gorbad, seorang pemimpin Orc yang langka karena memiliki kecerdasan sekaligus kekuatan luar biasa. Keistimewaan ini menjadikannya inspirasi bagi sesamanya dalam merancang invasi yang lebih mematikan dibandingkan pasukan Orc lainnya.
Dalam mode campaign, Gorbad memanfaatkan sistem Da’ Plan, di mana ia harus bereksperimen dengan berbagai komposisi pasukan untuk membuka sinergi unik yang memberikan keuntungan strategis. Di medan perang, ia menunggangi Warboar bernama Gnarla untuk menerjang musuh dengan serangan kuat sebelum bertarung menggunakan kapaknya, Morglor ‘the Mangler’.

Gorbad juga memiliki kemampuan khusus bernama Da Great Leader, yang meningkatkan serangan dan pertahanan pasukan di sekitarnya. Unit baru yang bergabung dalam pasukan Waaagh! Gorbad mencakup Snagla Grobspit, Savage Orc Great Shaman, Night Goblin Big Boss, Black Orcs (Axe & Shield), Mangler Squigs, Colossal Squig, Arachnarok (Flinger), dan Bolt Throwa.
Skulltaker
Legendary Lord selanjutnya adalah Skulltaker, sosok terkuat dari bangsa Bloodletter. Ia tidak pernah berhenti mencari lawan yang layak untuk dikorbankan kepada tuannya, Khorne. Memiliki naluri pertempuran yang tajam, Skulltaker selalu mengawasi medan perang demi menemukan musuh terkuat, dan menghabisi mereka dengan cepat.
Skulltaker dikatakan sebagai perwujudan kemarahan Khorne yang tak terbendung, bangga akan keahliannya dalam bertarung, serta menganggap dirinya sebagai kekuatan yang tak bisa dihentikan.
Dalam mode campaign, Skulltaker menggunakan sistem Cloak of Skulls, di mana ia harus mengalahkan para Legendary Lord dari berbagai penjuru dunia Warhammer untuk mengumpulkan tengkorak mereka (sesuai dengan namanya). Setiap tengkorak yang ia peroleh meningkatkan Champion’s Essence, memungkinkan dirinya membuka atau meningkatkan kemampuan dan atribut baru yang menjadikannya semakin mematikan dalam pertempuran.

Di medan perang, Skulltaker menggunakan pedang dua tangan Slayer Sword untuk membantai musuh dengan serangan brutal. Kemampuan pasifnya, Cloak of Skulls, meningkatkan spell resistance dan ward save setiap kali ia membunuh musuh.
Unit baru yang bergabung dalam pasukannya mencakup sembilan prajurit dari domain Blood God, termasuk dua Legendary Heroes, yaitu Skarr Bloodwrath yang dikenal sebagai penjagal haus darah, serta Scyla Anfingrimm yang merupakan perwujudan kemarahan Khorne.
Selain itu, pasukan fanatik lainnya turut bertempur, seperti Bloodspeaker, Slaughterbrute, Bloodbeast, Wrathmongers, Skullreapers, dan Khorngors, siap memperluas pengaruh Khorne dengan pertumpahan darah tanpa akhir.
Golfgag Maneater
Legendary Lord baru terakhir dan yang merupakan favorit kami adalah Golgfag Maneater, seorang Ogre Mercenary paling sukses yang pernah menginjakkan kaki di dunia Warhammer. Sebagai prajurit bayaran veteran, hampir tidak ada lawan yang belum ia hadapi.
Golgfag telah bertempur di berbagai benua, menerima pekerjaan apapun, membunuh siapapun, dan mencuri apapun selama bayarannya sesuai. Kesetiaannya hanya berlangsung selama kontraknya berjalan, menjadikannya sosok yang kejam sekaligus pragmatis. Selain itu, Golgfag juga dikenal sebagai peminum dan arak favoritnya adalah Bugman’s ale.
Dalam mode campaign, Golgfag mengandalkan sistem Mercenary Contracts, yaitu ia menerima kontrak dari berbagai faksi untuk menyelesaikan konflik mereka. Saat kontrak ditandatangani, ia harus mengumpulkan poin dengan menyerang musuh dalam batas waktu tertentu. Jika targetnya terpenuhi, kontrak dianggap selesai dan Golgfag mendapatkan bayaran serta hadiah seperti Meat, Maneater Banners, dan Ancillaries khas dari faksi yang mempekerjakannya.

Dalam pertempuran, Golgfag adalah pembantai infantry yang sangat mematikan dan seringkali menghabisi musuh dengan serangan brutal. Kemampuannya, Dead Eye, memungkinkan dirinya menembakkan satu peluru yang memiliki armor-piercing damage tinggi ke lawannya.
Unit baru yang bergabung dalam brigade mercenary Golgfag mencakup Bragg the Gutsman, seorang Legendary Hero sekaligus algojo terkenal dari Ogre Kingdoms. Selain itu, ia juga didukung oleh berbagai pasukan mematikan seperti Ogre Paymaster, Bruiser, Golgfag’s Maneaters, Pigback Riders, Blood Vultures, Yhetees, dan Thundertusk, menjadikan pasukannya sebagai kekuatan yang tidak bisa diremehkan dalam pertempuran.
Cerita Bernuansa Legenda
Sesuai dengan namanya, Total War: Warhammer III menggunakan dunia Warhammer sebagai latar belakang ceritanya. Warhammer sendiri merupakan dunia fantasi yang dibuat dan dikembangkan oleh Game Workshop dan sangat dikenal dengan game tabletop-nya.
Bagi kami memainkan Total War: Warhammer III seperti halnya menikmati sebuah legenda ketimbang cerita. Berkat game ini kami jaadi penasaran cerita dari tiap-tiap faksi, bagaimana mereka terbentuk dan siapa musuh utamanya (karena bagi kami semua faksi di Warhammer itu saling bermusuhan).

Gara-gara game ini juga kami menjadi lebih tertarik untuk menjelajahi cerita dan legenda yang ada di universe Warhammer. Sebelumnya, kami hanya tertarik dengan universe Warhammer 40K yang jauh lebih modern. Setelah mendalami cerita dan legenda Warhammer, kami merasa ada “charm” yang sama dengan saudaranya yaitu Warhammer 40K.
Inti cerita di Warhammer universe adalah tidak ada yang baik dan semua faksi ada untuk saling berperang dan saling menghancurkan. Intinya, tidak ada damai di dunia Warhammer. Yang ada hanya peperangan tanpa henti dan saling menghancurkan. Itulah mengapa kami sedikit tergelitik dengan adanya fitur diplomasi di dalam game ini.
Kesimpulan: Seru, Namun Punya Learning Curve Cukup Tajam
Tidak usah panjang lebar lagi, Total War: Warhammer III merupakan salah satu game strategy paling seru yang pernah kami mainkan. Game ini tidak hanya sekadar kompleks, tapi memiliki mekanisme gameplay yang sangat unik serta mendalam, memungkinkan setiap pemainnya untuk dapat memformulasikan strategi menggunakan gayanya sendiri-sendiri.
Sayangnya, kamu harus memiliki semua game Total War: Warhammer beserta DLC-nya jika ingin merasakan pengalaman memainkan semua Legendary Lord yang ada. Saran kami adalah beli secara bertahap saat sedang diskon.

Di sisi lain, game ini juga punya learning curve yang cukup tajam. Mekanisme game-nya bisa jadi sangat menantang untuk pemain pemula. Untungnya Total War: Warhammer III punya sistem tutorial yang cukup baik serta sistem navigasi unik yang bisa membuat pemainnya mengetahui lebih jauh berbagai istilah asing yang ada di dalam game ini.
Jika kamu adalah penggemar game strategy dan senang mempelajari mekanisme game yang kompleks serta menantang, percayalah kamu akan tertarik memainkan Total War: Warhammer III sama seperti kami.
Kelebihan:
- Mekanisme game kompleks namun tidak rumit untuk dipelajari secara bertahap.
- Penyajian cerita yang unik seperti halnya menikmati sebuah legenda.
- Ragam dan jumlah faksi serta unit yang sangat melimpah.
- Sistem pertempuran real-time yang seru.
Kekurangan:
- Learning curve cukup tajam.
- Butuh DLC dan game sebelumnya untuk menikmati seluruh kontennya.
Total War: Warhammer III + DLC Omens of Destruction
Summary
Total War: Warhammer III tidak hanya sekadar kompleks, tapi memiliki mekanisme gameplay yang sangat unik serta mendalam, memungkinkan setiap pemainnya untuk dapat memformulasikan strategi menggunakan gayanya sendiri-sendiri.































