
Ada masanya game RPG penuh dengan kekuatan supranatural, yaitu ketika pemain menggunakan imajinasinya untuk mengontrol kekuatan sihir yang menghempaskan kejahatan. Tapi bagaimana kalau kekuatannya adalah… normal? Ya, normal, seperti jika tertusuk pasti terluka dan harus diobati, memegang pedang perlu latihan, dan terutama menjaga postur. Inilah salah satu karakteristik utama Kingdom Come: Deliverance II, seri kedua dari seri Kingdom Come yang membawa pemain melanjutkan cerita seorang Henry dari daerah Skalitz melewati berbagai macam perang.
Setelah menghabiskan lebih dari 45 jam melakukan eksplorasi seri kedua ini, bisa dibilang bahwa Kingdom Come: Deliverance II merupakan sebuah seri yang melakukan perbaikan dan pengembangan lebih baik dari seri sebelumnya. Uniknya juga, review game seri kedua ini bisa juga diaplikasikan untuk seri pertama, mengingat setiap core mechanic dan juga playstyle terasa mirip namun tidak membosankan.
Kalau begitu, apakah game ini layak bertarung untuk Game of The Year 2025?
Game Imersif, Kaya Konten

Kingdom Come Deliverance secara umum memberikan pengalaman imersif yang mengedepankan aspek realistis. Dibangun dalam latar belakang medieval, pemain perlu mengelola aspek kehidupan biasanya seperti: durabilitas perlengkapan/senjata, kelaparan, kebersihan, pakaian, dan juga kemampuan berupa soft/hard skill. Di fase awal permainan, ketika pemain belum memiliki banyak sumber daya, mungkin terasa cukup sulit. Namun selayaknya game yang sangat realistis, ini berarti diperlukan ketangkasan dan kecerdikan untuk memanfaatkan apa yang ada di depan mata.
Berkat kompleksitas yang datang dari aspek realistis ini, seri kedua Kingdom Come terasa relatif lebih mudah diadaptasi dibandingkan seri pertama (untuk itu, sangat disarankan untuk memainkan seri pertama dahulu).

Sedikit tips untuk masuk ke dalam game ini: fokus kepada sumber daya pertarungan. Di setiap main dan side quest yang diberikan, pasti melibatkan paling tidak konflik, tak jarang pertarungan pedang/tangan kosong secara langsung. Persiapan menjadi sangat penting, sehingga masih lebih baik untuk melakukan berbagai side quest terlebih dahulu untuk mengumpulkan sumber daya. Aspek realistis ini membuat pemain tidak semudah itu bisa masuk dan keluar pertarungan.

Beberapa tipe senjata dan perlengkapan dapat digunakan sesuai dengan gaya main yang disukai. Pada awalnya, semua senjata terasa cukup lambat untuk digunakan, namun memberikan kesan pertarungan yang unik, berperang jauh maupun dekat, bilah pisau yang panjang atau pendek. Semakin sering digunakan, tentu semakin ahli. Progres kenaikannya pun terasa cukup, tidak terlalu lambat asalkan rutin digunakan pada setiap kesempatan yang ada. Setiap level memberikan semacam penguasaan pada aspek tersebut (yang berarti, namun tidak terlalu kelihatan di awal) dan pemain dapat melakukan investasi perk points untuk mendapatkan skill pasif tertentu, yang seringkali sangat berguna di situasi tertentu.
Salah satu perkembangan yang dilakukan lebih baik dari seri pertama adalah tentang handling. Pada seri pertama, terdapat 5 sisi ayunan pedang + 1 gaya tusukan. Pada seri kedua, hanya terdapat 4. Hal ini memberikan kemudahan untuk pemain lebih fokus terhadap aspek pertarungannya, dibandingkan sibuk memastikan postur yang dimiliki; sebuah kompromi yang perlu dilakukan untuk membuat alur pertarungan menjadi semakin lancar.
World-Building Medieval yang Excellent

Realisme dalam kehidupan di KCD II digambarkan dengan cukup akurat dan hidup. Ketika memasuki kota terbesar yaitu Kuttenberg, Henry dapat melihat berbagai macam kesibukan dan kehidupan. Arsitekturnya pun terlihat rapih dan invisible wall hampir tidak pernah terlihat. Sebagai dunia open world, cukup mudah memasuki berbagai macam bangunan dan “urusan” warga sekitar.

Sama seperti seri pertama, fast travel tetap melanjutkan sentuhan unik berupa encounter tertentu, contohnya seperti penyerangan tiba-tiba oleh bandit. Dengan pengembangan dalam mekanik pertarungan, tentu pemain tidak perlu terlalu khawatir dan tidak terlalu “dihukum” ketika gagal kabur dari hal unik seperti ini. Sungguh realistis bukan, ketika fast travel tetap berjalan layaknya seperti jalan biasa.

Petanya pun mudah digunakan untuk navigasi. Untuk membuka area baru, pemain perlu menjelajahi secara langsung dengan mudah melalui jalan kaki atau menaiki kuda. Penggambaran bangunan, hutan, wilayah penduduk, digambarkan dengan cukup jelas, tentunya dengan sentuhan artistik ala KCD yang unik.
Catatan Baik untuk Voice Acting di Cutsene

Interaksi antar karakter selalu terasa begitu organik, terutama pada kedua karakter utama Henry dan Hans. Warhorse terlihat menggunakan face capture yang cukup dibalut dengan voice acting yang natural dan interaktif. Tentu pemain dalam melakukan skip jika merasa bosan, tetapi cutscene yang diberikan selalu terlihat seperti layaknya film medieval.

Untuk bagian dialog yang memerlukan pilihan pemain, KCDII memilih untuk memisahkannya dari cutscene utama dan memberikan jeda transisi. Hal ini dapat cukup diterima dengan baik, terutama pilihan dialog yang cukup variatif. Dalam satu percakapan itu sendiri, terdapat berbagai pilihan yang tidak diperlihatkan apakah akan membawa pemain mengambil keputusan penting maupun hanya mencari informasi saja. Henry, sebagai karakter utama, perlu memperhatikan percakapan dan juga status sosial dari lawan bicara agar percakapan dapat berjalan dengan baik.
Kesimpulan

Kingdom Come: Deliverance II merupakan game segar bagi para pemain yang menyukai aspek realistis dalam RPG yang berfokus pada dunia dan combat yang dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Tentu catatan bahwa berbagai mekanik ini perlu dipelajari perlahan sebelum akhirnya terbiasa dengan aspek realistis ini.
Kelebihan
- Aspek realistis yang imersif bagi pemain
- World-building era medieval yang indah
- Berbagai senjata yang dapat diandalkan dari awal sampai akhir
Kekurangan
- Mekanik realistis yang perlu dipelajari khusus
- Combat dapat terasa relatif lambat
Kingdom Come: Deliverance II
Summary
Kingdom Come: Deliverance II adalah game realistis era medieval yang memadukan aspek pertarungan di dunia nyata dengan cerita yang menarik.




























