Sebagai pecinta game Pokemon sejak masa Pokemon Emerald di Nintendo Game Boy, jujur ekspektasi saya terhadap game AAA non-Pokemon dari Game Freak lebih ke abu-abu. Pasalnya, setelah saya cek sendiri di website Game Freak, memang historinya kebanyakan membuat game Pokemon beserta spin-off-nya. Pikir saya: “Game Freak? Bukannya biasa bikin Pokemon? Sekarang bikin game AAA?”. Saya yakin bukan saya saja yang berpikiran seperti ini. Beast of Reincarnation datang dengan trailer pertarungan yang dinamis dan penuh parry.

Gamers tentu berekspektasi tinggi ketika melihat mekanik pertarungannya yang mirip Sekiro dan NieR, terutama di sistem parry-nya. Tentu saja, untuk bisa menjadi game AAA yang worthy untuk menandingi semacam Sekiro, seluruh aspek game ini harus benar-benar bersinar, termasuk bagian ikonik seperti parry. Kesan singkat saya sebenarnya adalah: ok dan tidak ok. Beast of Reincarnation menjadi suatu gebrakan yang patut diapresiasi, namun tentu datang dengan banyak hal yang masih perlu diperbaiki. Apa saja itu?

Emma & Koo: Kolaborasi Pertarungan yang Menarik

In-Game Screenshot

Salah satu hal yang cukup mencolok adalah kisah dari Emma sang protagonis dan Koo yang menjadi companion setia Emma sepanjang permainan. Tanpa spoiler, hubungan antara Emma dan Koo akan menjadi semakin dekat, termasuk kolaborasinya dalam pertarungan. Selain skill dan pergerakan dari Emma sendiri, Koo memiliki health bar, moveset, dan terutama skill unik yang bisa pemain aktifkan untuk menyerang musuh dengan berbagai elemen serta efek. Hal ini membuat dinamika Emma dan Koo menjadi elemen yang cukup krusial dalam mekanik game ini sendiri.

Pasalnya, mana yang digunakan untuk mengaktifkan skill Koo (disebut SP dalam game ini) berasal dari hasil parry Emma sendiri, yang dalam pengalaman saya, cukup mudah untuk didapatkan. Baiknya, pool dari SP Koo sendiri sudah maksimal yaitu 9 SP dibandingkan rata-rata 3-4 SP yang diperlukan untuk skill Koo, sehingga penggunaannya lancar. Koo pun dapat digunakan untuk membunuh atau menyerang musuh dari jauh, meskipun dalam bentuk chance. Ditambah lagi, beberapa skill Koo dapat memulihkan HP Emma, sehingga ritme permainan terasa sangat sustain.

Kolaborasinya dengan Emma menjadi cukup tricky, dikarenakan perlu pengaturan terhadap elemen skill Koo (maupun usable item Koo) dengan elemen pedang Emma sendiri. Meskipun begitu, tanpa membaca tutorial pun, Koo tetap dapat digunakan dengan baik, terutama jika dimaksimalkan elemennya dengan elemen dari Emma. Kesimpulannya, Game Freak membuat kolaborasi pertarungan dan skill Emma dan Koo dengan cukup baik, meskipun sepertinya berlebihan jika berharap interaksi antara Emma & Koo semendalam Kratos dan Atreus di God of War.

Dunia & Pacing Cerita yang Hit & Miss

In-Game Screenshot

Setelah memainkan game ini selama kurang lebih 10 jam dan sudah cukup jauh dalam progresi ceritanya, saya harus setuju dengan beberapa review awal yang menyatakan bahwa dunia dan cerita Beast of Reincarnation terasa menarik namun kurang berisi. Dari segi dunia, Beast of Reincarnation mirip dengan game AAA lainnya yang mengadopsi pendekatan semi-open world dengan area-area unik tersendiri, namun beberapa stage awal terasa cukup kosong. Area eksplorasi tidak terlalu besar dan musuh pun umumnya hanya sedikit di tiap bagian. Terutama, tipe musuh termasuk boss itu sendiri pun memiliki moveset yang bisa dikatakan 80% hampir sama, sehingga bisa terlihat membosankan. Saya pun lama-lama ingin cepat menyelesaikan beberapa area awal dikarenakan suasana post-apocalyptic yang cukup generik dan world-building yang kosong.

Jika masuk ke masalah cerita, setelah saya renungkan, sebenarnya tidak terlalu lambat, namun sepertinya ada kendala di bagian percakapan yang agak patah-patah dan tidak smooth. Cutscene percakapan antar karakter yang selalu disampaikan secara verbal terasa tidak mengalir seperti percakapan pada umumnya, sehingga tiap percakapan bisa terasa seperti lagging. Padahal, jika seluruh rangkaian cerita dan interaksi ini bisa disajikan lebih smooth, misalnya dengan menambahkan teks di bagian bawah layar, mungkin ceritanya bisa banyak ditangkap lebih baik. Belum lagi, animasi tiap karakter yang relatif kaku turut memperparah progresi cerita tersebut.

Akibat kedua hal ini, cukup menantang untuk tetap termotivasi melakukan eksplorasi area tersebut, terutama ketika harus menghadapi percakapan yang agak patah-patah lagi. Kalau karakter sudah cukup kuat, rasanya lebih baik lanjut saja.

Nuansa Artistik Developer Jepang yang Konsisten

In-Game Screenshot

Tentunya terlepas dari kritik tentang dunia yang cukup kosong, Game Freak menyajikan karakter Emma dan Koo dengan identitas visual bermotif bunga yang menarik. Identitas bunga ini menjadi salah satu ciri khas dan hal yang saya tunggu setiap kali melakukan eksplorasi dan mengalahkan musuh. Identitas visual bunga ini juga cukup kental dalam interaksi karakter dengan dunianya, termasuk efek visual kombo dari skill yang dilakukan, hingga skill tree yang secara gamblang terlihat seperti pohon dengan berbagai macam bunga. Terlihat bahwa Game Freak punya visi arah artistik yang kuat dan konsisten.

Hal ini juga terlihat pada desain boss itu sendiri. Meskipun saya berargumen bahwa moveset boss ini cukup generik, desain boss-nya tetap terlihat sangat unik dan penuh dengan efek visual identitas bunga-bunga ini.

Kesimpulan

In-Game Screenshot

Beast of Reincarnation pada akhirnya menjadi bukti bahwa Game Freak mampu keluar dari zona nyaman Pokemon dan menghadirkan sesuatu yang segar, meski belum sepenuhnya matang. Kolaborasi tempur Emma dan Koo menjadi jantung permainan yang benar-benar terasa menyenangkan dan variatif, didukung identitas visual bermotif bunga yang konsisten dari desain karakter hingga boss sekalipun. Sayangnya, dunia yang terasa hampa serta penyampaian cerita yang kurang mengalir membuat momentum eksplorasi sering kali terasa berat untuk dijalani. Pada akhirnya, Beast of Reincarnation adalah gebrakan yang patut diapresiasi dari developer yang baru pertama kali mencoba genre ini, namun harapannya polesan di sisi dunia dan penyampaian narasi bisa lebih diperhatikan pada karya berikutnya.

Kelebihan

  • Kolaborasi tempur Emma dan Koo yang variatif dan terasa memuaskan
  • Identitas visual bermotif bunga yang konsisten, dari desain karakter hingga boss

Kekurangan

  • Desain dunia yang terasa sepi dengan moveset musuh yang repetitif
  • Penyampaian percakapan dan animasi karakter yang kurang mulus

Tokyo Game Show 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini