Setelah dua tahun dibanjiri chatbot yang pintar menjawab tapi tidak bisa berbuat banyak, industri teknologi mulai bergeser ke istilah agentic AI, yaitu AI yang tidak cuma menjawab, tapi juga bisa mengambil tindakan sendiri untuk menyelesaikan tugas. Pergeseran ini bukan sekadar wacana pemasaran. Gartner memperkirakan pasar AI agent global bakal mencapai 10,9–12,1 miliar dolar AS pada 2026, dengan pertumbuhan tahunan 44–46 persen hingga 2030. Bahkan dari sisi belanja perusahaan, Gartner memproyeksikan pengeluaran untuk agentic AI menembus 201,9 miliar dolar AS pada tahun yang sama, melampaui belanja untuk chatbot konvensional mulai 2027.

Di sisi adopsi, Gartner memperkirakan 40 persen aplikasi enterprise akan menyematkan AI agent untuk tugas spesifik pada akhir 2026, naik drastis dari kurang dari 5 persen pada 2025. Survei CrewAI turut menyebut 100 persen perusahaan yang disurvei berencana memperluas penggunaan agentic AI tahun ini, dengan 65 persen sudah memakainya dalam beberapa bentuk.

Tapi angka-angka optimistis ini punya sisi yang sering luput dari pemberitaan. Menurut Gartner, lebih dari 40 persen proyek agentic AI berisiko dibatalkan sebelum 2027 karena ekspektasi yang terlalu tinggi dibanding kesiapan organisasi maupun teknologinya.

Singkatnya, agentic AI memang sedang naik daun, tapi juga masih penuh eksperimen yang belum tentu berhasil. Pertanyaannya buat produsen hardware seperti ASUS, yaitu bagaimana ikut relevan di tren ini tanpa terjebak jadi sekadar “AI-washing” pada produk yang sebetulnya tidak banyak berubah?

Perangkat Keras Mengejar Perangkat Lunak

Momentum ini juga didorong oleh sisi hardware. Gartner memproyeksikan pengiriman AI PC bakal mencapai 143 juta unit dan menguasai 55 persen pasar PC global pada 2026, sementara Counterpoint Research memperkirakan angka penetrasi serupa di kisaran 59 persen, naik tajam dari sekitar 39 persen pada 2025. Artinya, chip dengan NPU sudah jadi standar baru laptop mainstream. Masalahnya, kapasitas hardware ini sering kali tidak dibarengi software yang memanfaatkannya secara berarti bagi pengguna awam. NPU secanggih apa pun tidak ada gunanya kalau penggunanya tidak tahu harus memakainya untuk apa.

Di titik inilah ASUS memperkenalkan Zenni Claw, platform AI Agent untuk perangkat berbasis Intel, AMD, maupun Qualcomm. ASUS sendiri bukan perusahaan yang fokus mengembangkan model AI seperti OpenAI atau Google, sehingga pendekatannya berbeda. Alih-alih membangun model sendiri, ASUS berfokus pada lapisan pengalaman pengguna di atas model-model yang sudah ada.

Zenni Claw (ASUS)
Zenni Claw (ASUS)

Ini bukan langkah yang unik. Microsoft sudah lebih dulu menanamkan kemampuan agentic ke Copilot, sementara sejumlah produsen laptop lain juga berlomba memasang label “AI PC” pada produknya. Yang membedakan satu produsen dengan lainnya biasanya bukan soal siapa yang lebih dulu memakai istilah agentic AI, melainkan seberapa jauh fitur tersebut benar-benar dipakai, bukan sekadar terpasang tapi diabaikan pengguna. Data adopsi yang disebut di atas menunjukkan gap ini masih lebar, sehingga persaingan sesungguhnya ada di eksekusi, bukan di pengumuman produk semata.

Menyederhanakan Proses yang Selama Ini Rumit

Salah satu keluhan umum terhadap AI Agent versi awal adalah kompleksitas pengaturannya, mulai dari memilih model, mengatur environment, menghubungkan tools, sampai mengelola izin akses. Ini bisa jadi salah satu alasan mengapa meski adopsi enterprise tumbuh cepat, rata-rata organisasi baru mengotomasi 31 persen alur kerjanya menggunakan agentic AI, menurut survei yang sama.

ASUS Zenni Claw mencoba memangkas hambatan itu lewat guided setup yang otomatis memeriksa kesiapan sistem tanpa memerlukan terminal, serta ASUS Skills, yaitu kumpulan tugas siap pakai seperti Life Assistant (morning briefing, rekomendasi acara makan bersama), Travel Assistant (pemantauan tiket pesawat, penyusunan itinerary), dan Work Assistant (rangkuman rapat, draf presentasi). Pengguna tidak perlu memulai dari tampilan percakapan kosong dan menyusun prompt sendiri dari nol.

Platform ini juga mendukung pemrosesan lokal, cloud, maupun hybrid, sehingga pengguna bisa menyesuaikan kebutuhan performa, privasi data, dan biaya penggunaan API sesuai jenis tugas. Soal keamanan, ASUS mengklaim telah menyematkan containerized workspace separation, safety guardrails, penyaringan data sensitif, hingga proteksi dari serangan prompt injection lewat LiteLLM proxy, mengingat AI agent juga bisa mengakses langsung file yang ada di layanan cloud.

Yang Masih Perlu Dibuktikan

Terlepas dari desainnya yang cukup rapi di atas kertas, Zenni Claw masih berstatus beta dan baru tersedia untuk perangkat ASUS tertentu berbasis Windows 11. Sejumlah pertanyaan mendasar belum terjawab mulai dari seberapa jauh ASUS Skills yang tersedia benar-benar mencakup kebutuhan harian pengguna di luar contoh-contoh demo, bagaimana performanya di perangkat dengan spesifikasi pas-pasan, hingga apakah model bisnisnya (termasuk potensi biaya API untuk fitur cloud) akan tetap terjangkau setelah masa beta berakhir.

Mengingat data Gartner soal tingginya risiko kegagalan proyek agentic AI, klaim kemudahan pemakaian saja belum cukup jadi jaminan keberhasilan. Yang bisa dinilai sekarang adalah arah strategi, yaitu ASUS memilih tidak bersaing di lapisan model AI, melainkan memperkuat lapisan pengalaman pengguna pada perangkat yang sudah mereka kuasai secara massal. Apakah strategi ini cukup untuk membuat ASUS benar-benar mengejar ketertinggalan dari pemain-pemain besar di ranah AI, atau justru hanya menjadi gimmick kecil di tengah gelombang besar adopsi agentic AI, baru akan terlihat setelah Zenni Claw keluar dari status beta dan diuji oleh pengguna sehari-hari dalam skala yang lebih luas.

Meski demikian langkah dari ASUS kali ini cukup menarik mengingat kami belum melihat langkah serupa dari kompetitornya.

Steam Curator Page

返事を書く

あなたのコメントを入力してください。
ここにあなたの名前を入力してください