Ada game yang cuma jadi kenangan, dan ada game yang musiknya terus nempel di kepala bertahun-tahun setelah kita selesai memainkannya. UNDERTALE jelas masuk kategori kedua. Sepuluh tahun sejak rilis pertamanya di 2015, RPG indie karya Toby Fox ini justru baru mendapat panggung orkestra sendiri di Indonesia — dan kabarnya, penggemar lokal langsung menyambutnya habis-habisan.
UNDERTALE: The Determination Symphony akan singgah di Jakarta pada 11 Oktober 2026, sebagai bagian dari tur dunia 2026/2027. Pertunjukan ini digelar oleh 54 Entertainment bersama Singapore Street Festival, setelah sebelumnya lebih dulu tampil di Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur. Yang bikin kami sedikit kaget: tiket batch pertama untuk penampilan perdana di Jakarta ini habis terjual tidak lama setelah dibuka. Buat game indie yang awalnya dibuat nyaris seorang diri oleh Toby Fox, ini pencapaian yang tidak main-main.

Bukan Sekadar Nostalgia di Atas Panggung
Konsep pertunjukannya sendiri sebenarnya bukan hal baru — orkestra yang membawakan ulang musik game sudah jadi format yang cukup umum belakangan ini. Yang membedakan tiap pertunjukan biasanya ada di eksekusi dan seberapa jauh mereka berani keluar dari sekadar “main lagu yang familiar”.
Untuk Jakarta, panggungnya akan diisi 25 musisi yang membawakan aransemen baru dari lagu-lagu ikonik UNDERTALE, lengkap dengan cuplikan gameplay yang diproyeksikan langsung selama pertunjukan. Penonton akan diajak menyusuri lokasi-lokasi yang mungkin sudah hafal di luar kepala buat yang pernah main gamenya: Ruins, Snowdin, Waterfall, Hotland, sampai New Home. Momen-momen pertarungan dan bagian emosional dalam cerita katanya juga dihidupkan lewat kombinasi musik dan visual, bukan cuma medley lagu tanpa konteks.
Ada dua sesi yang ditawarkan: pertunjukan malam dan matinee (siang) yang baru ditambahkan — kemungkinan besar karena permintaan yang tinggi setelah batch pertama ludes duluan.
Kenapa UNDERTALE Masih Relevan di 2026?
Ini pertanyaan yang cukup wajar buat dilontarkan. Game berumur satu dekade biasanya sudah selesai masa jayanya, tapi UNDERTALE justru punya lintasan yang agak aneh: bukannya meredup, game ini malah mencetak rekor jumlah pemain bersamaan (concurrent players) tertinggi sepanjang masa di Steam pada 2025 lalu. Artinya pemain baru masih terus berdatangan, bukan cuma nostalgia dari yang sudah lama jadi penggemar.
Fenomena ini juga tidak lepas dari konteks yang lebih besar. Menurut data PwC Global Entertainment & Media Outlook 2025–2029, pasar game dan e-sports Indonesia menghasilkan pendapatan sekitar US$1,6 miliar pada 2024, dan diproyeksikan naik ke US$2,4 miliar pada 2029. Jadi ketika promotor internasional mulai melirik Jakarta sebagai salah satu titik tur Asia — setelah Singapura, Bangkok, dan Kuala Lumpur — itu bukan keputusan sembarangan, melainkan mengikuti angka pasar yang memang terus tumbuh.
Worth It Buat yang Belum Pernah Main?
Ini pertanyaan yang mungkin muncul di kepala orang yang tidak familiar dengan UNDERTALE sama sekali. Jujur saja, pertunjukan berbasis musik game seperti ini biasanya memang lebih terasa spesial buat yang sudah punya ikatan emosional dengan gamenya — momen ketika lagu tertentu mulai dimainkan dan kamu langsung ingat adegan spesifik di game itu adalah bagian yang sulit direplikasi kalau kamu tidak pernah mainnya.
Tapi format orkestra dengan visual gameplay yang diproyeksikan juga membuka celah buat penonton baru untuk sekadar menikmati kualitas musikal dan storytelling-nya, tanpa harus paham detail lore Underground. Simpelnya, ini bukan pertunjukan yang eksklusif hanya buat penggemar berat.
Tiket UNDERTALE: The Determination Symphony Jakarta dijual lewat tiket.com, dengan harga mulai dari Rp977 ribu. Mengingat batch pertama sudah habis lebih dulu, kalau memang tertarik menonton, sepertinya tidak ada gunanya menunda-nunda terlalu lama.































