Saat awal saya melihat terbitnya game Metaphor: ReFantazio dan setelah memainkan gamenya selama beberapa jam pertama, saya sempat berpikir: “Sepertinya ini hanya game Atlus yang sama dengan seri yang lain. Beda tampilan saja, mekanik pertarungan mirip, detail game termasuk loading screen juga sepertinya tidak beda jauh. Lalu apa yang baru?” Ternyata, setelah bermain lebih jauh, memang game ini bisa dibilang berhasil menyajikan gaya khas Atlus dengan sesuatu yang baru.

Metaphor: ReFantazio bisa dibilang menyajikan dunia ala Persona namun dengan cerita baru dan mekanik yang modern. Seperti cerita pada website Metaphor sendiri, sang protagonis yang tak bernama ini harus bernavigasi bersama timnya untuk menjadi raja di dunia baru, mewujudkan sebuah ideal yang terlihat cukup sulit digapai pada saat awal game tersebut berjalan. Ceritanya cukup linear dengan berbagai side quest yang mendukung perjalanan cerita ini, menjadikan Metaphor sebagai salah satu terbitan terbaru Atlus yang cukup kuat.

Tapi seberapa kuat dan baik game Metaphor ini?

Formula Turn-Based Atlus yang Tetap Solid

In-Game Screenshot

Atlus tentunya tetap menggunakan sistem turn-based combat untuk game ini meskipun dengan IP baru. Saya tidak akan membahas atau berdebat terlalu dalam apakah turn-based akan menjadi nasib tiap game dari Atlus itu sendiri, namun karena itulah kematangan game ini perlu kita uji. Beberapa fitur khas dari turn-based ala Atlus kembali dalam Metaphor seperti mekanisme one more berbasis weakness (termasuk juga resistance pada banyak elemen tertentu). Selama kurang lebih 70 jam permainan, saya tidak menemukan isu yang signifikan dan juga tidak butuh waktu lama untuk mempelajari bagaimana mekanik game ini.

Salah satu fitur yang saya cukup sukai, meskipun jarang digunakan, adalah fitur untuk kembali ke fase awal pertarungan. Dalam difficulty normal sekalipun, saya menemukan beberapa pertarungan maupun monster bisa cukup menyebalkan, terutama jika set up karakter party bertolak belakang dengan kemampuan musuh. Di saat kritis atau di saat saya ingin mengatur kembali strategi, saya dapat melakukan rewind ulang (di Xbox controller, tombol R3). Yang harus dicatat, rewind ini selalu kembali ke awal, jadi kita tidak bisa trace back tiap aksi yang sudah diambil.

Grinding pada dungeon yang tersedia tentu dapat membantu untuk berprogress melawan musuh maupun boss dengan mudah, namun ketika saya mengikuti setidaknya setiap side quest yang tersedia, level party saya relatif cukup untuk melawan berbagai boss. Tentu, lagi-lagi set up party, baik karakter maupun equipment dan skill, menjadi satu hal yang sangat penting. Saat itu saya hanya grinding untuk menaikkan level party pada satu fase sebelum boss terakhir, sementara untuk progress cerita lainnya hanya dijalankan seperti biasa. Balance-nya masih baik, seperti ingatan saya pada grinding di Persona 5 Royal yang juga masih dalam batas aman.

Tentunya, seperti game Atlus lainnya, deadline dalam bentuk hari masih menjadi ciri khas yang mendorong pemain untuk bisa balancing antara waktu dan juga grinding. Beberapa deadline pada fase cerita tertentu sempat saya khawatirkan, tapi ternyata cukup asalkan kita benar-benar memperhatikan efek dari setiap interaksi (yang kebanyakan akan mengambil waktu 1 hari atau lebih).

Formula cerita yang simpel tapi kuat

In-Game Screenshot

Kalau bicara tentang cerita, yang menurut saya menjadi salah satu hal yang cukup menarik dan kuat dari setiap game Atlus, Metaphor: ReFantazio tentunya memiliki satu premis cerita yang cukup jelas: perjalanan sang protagonis menjadi raja. Dari awal sampai akhir, baik setiap fase cerita, kita sudah bisa melihat arah tujuan dari setiap cerita ini, namun ada beberapa cerita latar belakang dari tiap karakter yang melengkapi alasan utama dari perjalanan sang protagonis (yang tentunya saya tidak bisa spoiler). Pacing-nya menurut saya masih cukup normal dan tidak ada kendala apapun, mungkin alasan utamanya karena aktivitas yang bisa kita lakukan di tiap tempat yang cukup unik.

Seperti yang telah saya sempat sebutkan singkat, sang protagonis melakukan petualangan bersama dengan beberapa karakter (yang bertarung dalam satu party). Maksimal komposisi party hanya 4 orang, namun side karakternya ada lebih banyak, sehingga mix and match komposisi menjadi cukup penting. Saya cukup bisa apresiasi bahwa setiap side character di game ini memiliki latar belakang yang cukup menarik dan dalam, asalkan kita menghabiskan waktu untuk memperdalam hubungan dengan side character ini melalui side quest.

Tentunya mix and match party ini bisa menjadi cukup limiting, dan saya menemukan bahwa karakter tertentu memiliki efek pertarungan yang secara general lebih berguna dibanding yang lain. Meskipun begitu, saya rasa ini tergantung dari masing-masing pemain. Ikatan emosional dari karakter yang kuat bisa jadi tidak sebanding dengan kegunaannya dalam pertarungan. Tapi jangan salah tangkap, tiap karakter sekali lagi memiliki latar belakang yang cukup menarik dan berguna, jika di-set up dengan baik.

Art Direction yang matang, dengan sedikit catatan

In-Game Screenshot

Jangan sampai ketinggalan untuk membahas gaya artistik dari game ini sendiri. Metaphor: ReFantazio kembali membawa desain artistik baik dari lagu hingga art bagian menu dengan baik. Pertama, dari musik pun composer Shoji Meguro tidak gagal memberikan tema lagu yang cukup unik untuk tiap fase dari cerita ini. Kedua, tentunya menu dan juga pilihan aksi dari tiap pertarungan juga dirangkai dengan baik khas Atlus, tentunya di-adjust ke gaya artistik Metaphor. Ketiga, desain monster-nya yang… aneh dan menyeramkan (dan menarik).

https://www.hieronymus-bosch.org/The-Garden-Of-Earthly-Delights-Panel-3.html

Desain monster ini cukup menarik perhatian saya, dikarenakan menurut saya monster atau musuh adalah salah satu elemen desain penting dalam tiap game, terutama game RPG. Desain monster dalam Metaphor: ReFantazio ini, setelah saya penasaran dan mencarinya, terinspirasi dari karya seni Hieronymus Bosch. Dengan sedikit modifikasi, saya rasa desain monster ini sudah sangat unik dan menyeramkan pada waktu tertentu. Ditambah lagi, kekuatan atau serangan dari monster ini menggunakan elemen atau moveset yang terinspirasi dari karya seni itu sendiri, terlepas dari efek serangan seperti poison dan lainnya yang mungkin masih sama.

Satu hal yang menjadi catatan bagi saya adalah UI inventory yang masih tidak begitu seamless. Dalam pertarungan turn-based, bukan rahasia umum bahwa kita pemain pasti akan menggunakan sedikit banyak item yang telah kita kumpulkan. Dalam tiap pertarungan intens, saya menemukan diri saya sendiri menekan banyak tombol D-pad hanya untuk menemukan item potion untuk memulihkan darah maupun memberikan efek pada musuh. Pengkategoriannya pun tidak begitu membantu pada saat pertarungan, yang saya harap bisa lebih efektif lagi ke depannya.

Kesimpulan

In-Game Screenshot

Menjawab keraguan saya di awal permainan, Metaphor: ReFantazio bukan sekadar “Persona dengan skin baru”. Formula turn-based khas Atlus memang masih menjadi tulang punggung game ini, namun kematangan sistem pertarungan, kedalaman cerita dan karakter, hingga arahan seni yang berani menjadikan Metaphor sebagai salah satu karya terkuat Atlus dalam beberapa tahun terakhir. Ada beberapa catatan kecil, terutama dari sisi UI, namun secara keseluruhan game ini berhasil membuktikan bahwa Atlus masih punya banyak hal baru untuk ditawarkan di luar IP Persona.

Kelebihan

  • Sistem pertarungan turn-based yang matang dengan mekanisme rewind yang membantu tanpa terasa curang, didukung balance grinding yang adil
  • Arahan seni yang berani dan orisinal, dari desain monster terinspirasi Hieronymus Bosch hingga scoring musik Shoji Meguro yang kuat di tiap fase cerita

Kekurangan

  • UI inventory yang kurang seamless, menyulitkan navigasi cepat saat pertarungan intens
  • Komposisi party yang cukup limiting, dengan beberapa karakter yang terasa jauh lebih berguna secara mekanik dibanding yang lain

Metaphor: ReFantazio

Gameplay
Feature
Story

Summary

Metaphor: ReFantazio membuktikan bahwa Atlus mampu melangkah keluar dari bayang-bayang Persona tanpa kehilangan identitas khasnya — formula turn-based yang matang, cerita yang kuat, dan arahan seni yang berani, meski masih ada sedikit celah di sisi UI.

4.5

Tokyo Game Show 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini