Sebelum membahas Pragmata, mari simak sebentar pengalaman saya dengan salah satu game CAPCOM. Pada tahun 2007, sebuah game third-person shooter bernama Lost Planet: Extreme Condition menarik perhatian saya. Tidak seperti seri Metal Gear yang memiliki cerita kompleks serta gameplay mechanic yang penuh dengan gimmick menarik, Lost Planet bisa dibilang sangat straightforward dan to-the-point. Meski demikian, game yang dikembangkan oleh CAPCOM tersebut berhasil membuat saya tercengang.

Belakangan saya sadar mengapa game tersebut sangat berkesan: game ini ini memiliki learning curve yang sangat landai sehingga player merasa tidak dipaksa untuk “belajar”. Resep rahasia tersebut juga yang menurut saya kembali diterapkan oleh CAPCOM dan berhasil membuat Pragmata menjadi game yang sangat sukses bahkan digadang-gadang menjadi salah satu calon Game of The Year 2026, setara dengan GTA VI.

Well-played, CAPCOM

Suksesnya Pragmata bukan hanya sekadar dari bagaimana CAPCOM bisa mendesain game ini dengan sangat baik, tetapi juga bagaimana peran tim marketing-nya mengomunikasikan aspek positif dari game ini.

Pengembangan Pragmata bisa dibilang tidak mulus. Game ini sudah dua kali mengalami penundaan perilisan. Pertama kali diperkenalkan pada tahun 2020 di acara eksklusif PlayStation, Pragmata dijanjikan hadir tahun 2022. Namun di tahun 2021, CAPCOM merilis trailer baru yang juga mengumumkan bahwa perilisan game ini mundur dari tahun 2022 ke 2023.

Sayangnya, tahun 2023 game ini tidak kunjung dirilis dan CAPCOM mengumumkan perilisan game ini ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Melalui sebuah trailer, CAPCOM meminta maaf kepada gamers yang telah menunggu game ini serta menjelaskan mereka membutuhkan waktu lebih untuk menyempurnakan Pragmata.

Status penundaan seperti yang dialami oleh Pragmata seringkali munimbulkan kesan negatif bagi developer-nya. Sebagian gamers bahkan beranggapan CAPCOM akan menunda Pragmata selamanya. Meski demikian, banyak yang mendukung keputusan CAPCOM untuk menunda game ini.

Melalui komentar di video trailer pengumuman penundaannya di YouTube, gamers mengatakan bahwa mereka lebih baik menunggu asalkan CAPCOM bisa menghadirkan game yang layak rilis, ketimbang produk setengah matang. Di sini kita bisa belajar bagaimana CAPCOM berhasil membalikkan situasi genting menjadi sesuatu yang positif melalui komunikasi yang baik.

Seperti yang kita tahu, banyak sekali studio game yang justru memaksakan game mereka untuk segera dirilis setengah matang bahkan tidak pernah meminta maaf kepada gamers saat game-nya tidak layak main. Sistem distribusi digital telah membuat budaya “patch later” menjadi biasa sehingga semakin banyak developer game yang justru seperti memilih mengembangkan sisa game-nya setelah dirilis melalui patch dan update.

Komunikasi dan transparansi adalah salah satu kunci mengapa Pragmata sangat bisa diterima oleh gamers meski telah mengalami dua kali penundaan.

CAPCOM tidak bermain aman

Pragmata merupakan IP baru dari CAPCOM. Game ini tidak memiliki basis penggemar, tidak seperti Resident Evil atau Monster Hunter. Menimbang hal tersebut, Pragmata tentu memiliki risiko gagal yang lebih besar. Gagal di sini berarti penjualan game-nya tidak mempu menutupi biaya pengembangannya, dan semua developer game seperti CAPCOM jelas tidak ingin hal tersebut terjadi di Pragmata. Meski demikian, CAPCOM tetap berani maju dan mendukung pengembangan Pragmata hingga selesai bahkan menurut saya nekat bereksperimen dengan gameplay mechanic-nya.

Pragmata (CAPCOM)
Pragmata (CAPCOM)

Pragmata sangat berbeda dengan game third-person shooter pada umumnya yang biasanya fokus pada action atau tactical stealth. Pragmata sama sekali tidak memiliki elemen stealth di gameplay mechanic-nya. Alih-alih saya merasa game ini menitik beratkan gameplay mechanic-nya ke arah action dan tactical, yaitu player tidak bisa sembarangan menembak dan membantai musuh seperti di game DOOM. CAPCOM tampaknya ingin gamers untuk lebih menikmati sisi tactical dari sebuah game third-person shooter dengan cara yang berbeda. Bagaimana caranya?

Untuk pertama kalinya dalam sejarah saya bermain game (yang sudah lebih dari 20 tahun), ada sebuah game yang berani memasukkan elemen puzzle sebagai gameplay mechanic utamanya. Bukan sebagai gimmick atau mini game, tapi gameplay mechanic utama. Pragmata berhasil mendobrak stigma bahwa puzzle tidak hanya untuk mini game atau gimmick, tetapi bisa diintegrasikan dengan baik ke setiap aksi pemainnya.

Mengintegrasikan elemen puzzle ke dalam gameplay mechanic third-person shooter bisa dikatakan sebagai gambling. Jika gameplay eksperimental tersebut tidak berhasil, Pragmata sudah dipastikan akan ditolak dan tenggelam. Bagaimana CAPCOM membuat gameplay mechanic-nya menjadi disukai oleh para gamers?

Puzzle dan shooter

Di Pragmata kamu akan berperan sebagai Hugh Williams, seorang astronot yang terjebak di fasilitas riset di bulan. Di sana, Hugh bertemu dengan Diana, sosok android kecil yang membantu Hugh untuk keluar dari fasilitas riset tersebut dan kembali ke Bumi. Peran Hugh adalah menembak dan menghancurkan musuh, sementara Diana melakukan hacking dan memaksa musuh (yang merupakan robot) untuk memperlihatkan bagian kelemahannya.

Hugh tidak bisa menghancurkan musuh tanpa bantuan hacking dari Diana. Jika kamu memaksa menembak musuh yang belum di-hack, damage serangan kamu akan dipangkas habis-habisan bahkan saat menggunakan senjata yang paling kuat sekalipun. Lewat mekanisme tersebut, player dipaksa untuk melakukan hacking sebelum menyerang.

Pragmata (CAPCOM)
Pragmata (CAPCOM)

Proses hacking inilah yang merupakan elemen puzzle di Pragmata yang telah saya singgung sebelumnya. Saat melakukan hacking, kamu akan dihadapkan dengan interface semacam matriks dengan berbagai node di beberapa elemennya. Kalau kamu tidak mengerti istilah matematis tersebut, bayangkan saja sebuah spreadsheet Microsoft Excel yang terdiri dari baris dan kolom, serta di beberapa cell-nya terdapat node khusus yang bisa menghasilkan berbagai macam efek ke musuh.

Singkatnya, proses hacking di Pragmata mirip dengan game mouse maze yang mengharuskan kamu mencari jalan dari titik awal hingga titik akhir. Kamu diberi kebebasan mencari jalan tersebut, namun juga dipaksa untuk berfikir ekstra untuk mencari jalan paling efisien yang melewati berbagai node sehingga menghasilkan efek hacking yang lebih optimal.

Jika dijelaskan, proses hacking di Pragmata memang terdengar sangat membingungkan. Namun ketika dimainkan, saya yakin kamu akan langsung mengerti bagaimana proses hacking-nya bekerja. Bagi saya, mekanisme hacking di Pragmata adalah aspek terbaik dari game ini. CAPCOM tidak hanya sekadar berhasil menghadirkan mekanisme hacking yang unik, tetapi juga menuntun pemainnya untuk menguasai mekanisme tersebut secara bertahap.

Learning curve yang ramah

Di awal, saya sempat mengatakan bahwa learning curve yang landai di Pragmata adalah salah satu alsan mengapa game ini menjadi sangat berkesan. CAPCOM sama sekali tidak memaksa pemainnya untuk mengerti seluruh gameplay mechanic di Pragmata bekerja. Mereka juga tidak menghukum kamu dengan boss fight yang super sulit. Saya bisa mengatakan bahwa game ini sangat approchable dan bisa dimainkan oleh semua kalangan, baik gamer veteran maupun casual.

Di awal game, kamu hanya bisa memilih dua tingkat kesulitan yaitu Casual dan Standard. Sementara dificulty Lunatic akan terbuka ketika kamu berhasil menamatkan game ini baik di mode Casual maupun Standard. Mode Standard yang saya mainkan tergolong cukup menantang namun tidak terlalu sulit seperti genre souls-like. Yang paling menarik adalah game ini bisa menuntun saya untuk mengerti dan beradaptasi secara bertahap.

Pragmata (CAPCOM)
Pragmata (CAPCOM)

Di level pertama, saya hanya dihadapkan oleh musuh-musuh sederhana seperti Walker, Watcher, dan Crusher. Ketiganya masih sangat mudah untuk dihadapi karena ukuran matriks hacking-nya yang kecil (matriks hacking Walker hanya 4×4). Namun seiring game berjalan, musuh yang dihadapi akan semakin kompleks. Tidak hanya serangannya yang lebih bervariasi, ukuran matriks hacking-nya juga semakin besar. Beberapa musuh seperti Executor bahkan memiliki kemampuan jamming untuk memblokir hacking, sehingga kamu harus menetralisir sistem jamming-nya dengan cara menembak titik lemahnya.

Proses hacking juga semakin kompleks. Hacking yang sebelumnya hanya digunakan untuk membuka titik lemah musuh, kini bisa digunakan untuk melumpuhkan musuh lebih jauh melalui hacking node. Hadirnya hacking node akan membantu kamu untuk melakukan hacking secara lebih efisien. Misal, Multihack hacking node memungkinkan musuh di sekitar target hack akan terdampak dari efek hacking-nya. Selain itu ada juga Freeze hacking node yang bisa membuat musuh diam dalam beberapa saat. Favorit saya tentu adalah Confuse hacking node yang membuat musuh untuk menyerang satu sama lain.

Semakin jauh progress game-nya maka kamu akan menemukan lebih banyak hacking node serta skill yang bisa membantu kamu untuk melakukan hacking secara lebih efisien terhadap musuh yang semakin kompleks dan telah berevolusi. Learning curve game ini benar-benar landai dan mudah diterima oleh banyak kalangan. Menurut saya, sistem learning curve tersebut juga yang membuat game ini menjadi tidak membosankan karena setiap musuh yang saya hadapi menghadirkan tantangan tersendiri.

Sistem upgrade yang solid

Sistem upgrade di Pragmata berpusat di satu tempat, yaitu Shelter, markas utama Hugh dan Diana di pangkalan bulan. Di sana ada dua mesin yang menjadi jantung dari seluruh progression game ini.

  • Firmware Updater memakai Upgrade Components, item berbentuk kubus kuning yang tersebar di setiap sektor, untuk menaikkan tiga kategori stat: HP dan defense suit Hugh, damage senjata utamanya, serta damage dan durasi weakpoint hasil hacking Diana. Level maksimal yang bisa dicapai mengikuti Shelter Level, yang naik setiap kali kamu berhasil mengalahkan boss di satu sektor.
  • Unit Printer memakai Lunafilament, mata uang paling umum di game ini, untuk mencetak senjata sekunder, node hacking baru untuk Diana, kemampuan aktif Hugh, sampai attachment tambahan.

Yang membuat sistem ini terasa solid adalah keseimbangannya. Saya tidak pernah merasa dipaksa grinding hanya untuk naik level. Material yang dibutuhkan datang secara alami seiring saya menjelajah dan menuntaskan pertarungan, dan hampir setiap poin upgrade yang saya keluarkan terasa berguna.

Pragmata (CAPCOM)
Pragmata (CAPCOM)

Ada satu detail kecil yang menurut saya berhasil memperkuat sisi emosional game ini. Shelter bisa didekorasi dengan REM, koleksi memori kecil dari Bumi seperti perlengkapan camping, pantai, hingga alat bermain untuk Diana. Markas yang awalnya terasa dingin dan penuh teknologi perlahan berubah menjadi tempat yang hangat, sejalan dengan hubungan Hugh dan Diana yang juga makin dekat.

Bagi kamu yang ingin tantangan lebih setelah menamatkan game, Pragmata juga menyediakan tingkat kesulitan lebih tinggi dan New Game Plus yang membawa seluruh upgrade ke playthrough berikutnya, sehingga effort yang sudah kamu kumpulkan tidak sia-sia.

An “Okay” story

Meski gameplay-nya sangat kuat, saya harus jujur bahwa cerita bukan bagian terbaik dari Pragmata. Ceritanya cukup layak dinikmati, namun tidak seistimewa mekanisme hacking-nya.

Sepanjang perjalanan, hubungan Hugh dan Diana berkembang secara natural. Hugh awalnya hanya menganggap Diana sebagai alat bantu untuk keluar dari fasilitas riset. Namun semakin jauh mereka bertualang bersama, Hugh mulai memperlakukan Diana layaknya anaknya sendiri, lengkap dengan momen-momen kecil seperti memberikan hadiah dari koleksi REM yang membuat Diana senang.

Pragmata (CAPCOM)
Pragmata (CAPCOM)

Cerita Pragmata juga memiliki plot twist yang cukup mengejutkan dengan berbagai sentuhan latar belakang mengenai Diana dan dunia Pragmata dapat disimak melalu berbagai rekaman yang tersebar di berbagai tempat. Yang paling disayangkan bagi saya adalah ceritanya cukup pendek. Total gameplay Pragmata hanya sekitar 20 jam kalau kamu hanya fokus ke misi utama.

Endingnya sendiri cukup menyentuh. Sedih, tapi tetap memuaskan, karena game ini masih menyisakan sedikit harapan di penghujung cerita bagi pemain yang mau menuntaskan tantangan tambahan setelah kredit selesai.

Kesimpulan

Pragmata adalah bukti bahwa CAPCOM masih punya kemampuan untuk menciptakan IP baru yang berani mengambil risiko. Kombinasi puzzle hacking dan third-person shooter yang mereka racik berhasil menciptakan gameplay loop yang segar, didukung learning curve yang landai dan sistem upgrade yang terasa bermakna di setiap langkahnya. Ceritanya memang tidak seistimewa gameplay-nya, tetapi hubungan Hugh dan Diana tetap berhasil memberikan sentuhan emosional yang pas. Ditambah dengan strategi komunikasi CAPCOM yang transparan selama proses penundaan, Pragmata pantas disebut sebagai salah satu game paling solid dan berkesan di tahun 2026.

Kelebihan

  • Mekanisme hacking yang unik dan terintegrasi dengan baik ke dalam combat
  • Learning curve yang landai sehingga mudah diikuti berbagai kalangan gamer
  • Sistem upgrade yang terasa bermakna tanpa perlu grinding berlebihan
  • Diana imut sekali

Kekurangan

  • Ceritanya cukup layak namun terlalu singkat

Pragmata

Gameplay
Feature
Story

Summary

Pragmata adalah bukti bahwa CAPCOM masih punya kemampuan untuk menciptakan IP baru yang berani mengambil risiko. Kombinasi puzzle hacking dan third-person shooter yang mereka racik berhasil menciptakan gameplay loop yang segar.

4.8

Tokyo Game Show 2026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini